BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Tsaqofah / Fiqih / Hukum Wanita Mengantarkan Jenazah

Hukum Wanita Mengantarkan Jenazah

886244_07403811102013_Pemakaman_HadidjahUmmu Athiyah pernah menuturkan:

نُهِيْنَا عَنْ اِتْبَاعِ الْجَنَائِزِ وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا (رواه البخارى)

“Kami pernah dilarang untuk ikut mengantarkan jenazah dan itu tidak diperketat bagi kami.” (HR. Al-Bukhari)

Hadis ini menunjukkan, bahwa Rasulullah tidak memperketat larangan untuk ikut mengantarkan jenazah bagi kaum wanita, seperti pengetatan yang terjadi pada larangan-larangan lainnya. Seakan-akan, Ummu Athiyah mengatakan: “Dimakruhkan bagi kami untuk ikut mengantarkan jenazah dan bukan diharamkan.”

Secara lahiriah, larangan itu lebih bersifat anjuran, demikian menurut Al-Qurthubi. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh jumhur ulama. Sedangkan Imam Malik lebih cenderung membolehkannya, pendapatnya ini menjadi perndapat dari sebagian besar penduduk Madinah. Dalil yang menjadi landasan diperbolehkannya untuk ikut mengantarkan jenazah bagi kaum wanita adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Syaibah dari Abu Hurairah:

اَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِيْ جَنَازَةِ فَرَأَى عُمَرُ اِمْرَاَةً فَصَاحَ بِهَا فَقَالَ دَعْهَا يَا عُمَرَ (رواه ابن ماجه والنسائ)

“Bahwa Nabi pernah mengantarkan jenazah. Lalu Umar bin Khattab melihat ada seorang wanita mengikutinya. Maka ia (Umar) menegurnya dan beliaupun berkata; Wahai Umar, biarkan saja.” (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i)

Dalam hadis dari Ummu Athiyah di atas terdapat dalil yang menunjukkan, bahwa larangan syari’at itu ada beberapa tingkatan, demikian menurut pendapat Al-Muhallab. Sedangkan menurut Ad-Dawudi terdapat dua pendapat: Pertama, hadis tersebut melarang keikutsertaan wanita sampai ke kuburan. Kedua, dibolehkannya kaum wanita melayat dan berduka pada si mayit tanpa harus ikut mengantarkan jenazah ke kuburan. Dalam hadis dari Abdullah bin Amr Al-Ash disebutkan:

اَنَّ النَّبِيُّ رَاَى فَاطِمَةَ مُقْبِلَةً فَقَالَ لَهَا مِنْ اَيْنَ جِئْتِ؟ فَقَالَتْ رَحِمْتُ عَلَى اَهْلِ الْمَيِّتِ مَيْتَهُمْ فَقَالَ لَعَلَّكَ بَلَغْتِ الْكُدَى قَالَتْ لاَ (رواه أحمد وابو داود والحاكم)

“Bahwa Nabi pernah mengetahui kedatangan Fatimah. Lalu beliau bertanya: Dari mana engkau, wahai putriku? Fatimah menjawab: Aku baru saja melayat keluarga yang ditimpa musibah kematian. Kemudian beliau bertanya: Apakah engkau ikut mengantar sampai ke kuburan? Fatimah menjawab: “Tidak.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al-Hakim)

Hal ini berarti, bahwa Rasulullah melarang Fatimah mengantarkan sampai ke kuburan. Akan tetapi, tidak melarangnya untuk datang melayat kepada keluarga si mayat. []

Ditulis oleh M. Sufyan As Tsauri (Aktifis Kalam UPI dan Mahasiswa Jurusan IPAI UPI)

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Tata Cara Sholat Jamak dan Qashar (2)

JIKA telah memenuhi syarat sah sebagai rukhsah, selain di jamak salat fardu juga dapat di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *