BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Sastra / Karya Cerpen / “Hidup tak sesederhana seperti dalam Game”

“Hidup tak sesederhana seperti dalam Game”

 -Sebuah perjalanan menuju perubahan-

Oleh Recky Anadi | Mahasiswa Teknologi Pendidikan

Bagian 1

Aku Koko Hadikusuma, usiaku 16 tahun, siswa kelas 11 (2) di salah satu SMA Negeri Favorit di kotaku, penampilanku cukup stylish dengan gaya rambut yang sedikit acak-acakan namun terlihat keren, hobiku bermain game baik offline maupun online, keseharianku adalah sekolah dan bermain game, di sekolahku aku bukanlah murid yang begitu pintar namun tidak begitu bodoh,murid yang biasa-biasa saja. Ya,aku hanya seorang siswa biasa yang menjalani kehidupan sekolah seperti siswa pada umumnya. Aku tinggal bersama kedua orangtua dan adik perempuanku. Ayahku bernama Asep Hadikusuma dia adalah seorang Manager di salah satu perusahaan swasta, ayahku jarang berada di rumah karena disibukan oleh pekerjannya, dia selalu pulang larut. Ibuku bernama Laila Imelda dia seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil), meski dia sibuk dengan pekerjaannya ibuku ini cukup perhatian, cukup perhatian kepada adikku. Dan Adikku ini bernama Syifa Hadikusuma, dia hanya berbeda satu tahun saja denganku, berbeda denganku dia pintar, hobinya belajar , membaca buku dan selalu menjadi juara kelas, kebetulan adikku ini berada di satu sekolah yang sama denganku. Di keluargaku adikku lah yang lebih perhatian denganku, meski begitu rasanya aku sedikit terganggu dengan dia, terkadang aku selalu mengacuhkannya. Di rumah aku jarang sekali berkomunikasi dengan keluargaku. Bukan berarti aku membenci adikku atau keluargaku, hanya saja ketika aku sedang bermain game, aku tidak mau diganggu, ya hanya itu alasannya, entahlah rasanya kepribadianku berubah ketika sudah berurusan dengan game. Ya, yang kutahu itulah sisi buruk dari diriku.

Lalu…

Tong..Teng..Teng…Tong…Tong…Teng…Teng…Tong.., tanda bel istirahat pun telah berbunyi, teman-temanku yang lainnya seperti biasa sudah berhamburan keluar kelas untuk menyantap makanan dan minuman yang telah tersedia di kantin.

“Ko, ntar habis pulang sekolah kita main ke warnet yuk, ntar aku ajak yang lainnya deh biar seru”, ajak Faisal.

“Ayo Sal, pas banget nih aku lagi butuh refreshing, gak tahan tiap hari ke sekolah pulangnya jam 3 sore, menyakitkan Sal”, keluh ku.

“Ah kebiasaan kamu mah Ko ngeluh mulu sama kaya si Faisal, mana bisa move on kalau ngeluh mulu mah,” sanggah Fajar”.

“Heee.. santai aja kali Jar, aku juga gak bodo bodo amat”, jawab ku sambil memasukan buku ke dalam tas.

“Iya nih, kaya yang kamu gak pernah ngeluh aja Jar”, jawab Faisal

“Wue, soryy aja bro, gue mah gak pernah ngeluh kaya kalian, gue mah enjoy enjoy aja”, balas Fajar

“Ah, omdo, omong doang kamu mah Jar”, kata Faisal

“Udah-udah, daripada ngomel mulu ayo ah kita ke kantin beli makanan atau apalah, takutnya nanti keburu masuk” ajak ku.

Sepulang sekolah seperti yang sudah dijanjikan, kami bertiga berangkat ke warnet tempat kami biasa bermain, namun ketika aku dan teman-temanku berjalan menuju pintu keluar sekolah, tiba-tiba di depan gerbang sekolah ada seorang perempuan yang melambai-lambaikan tangannya ke arahku, aku picingkan mataku ke arah perempuan itu… dan ternyata dia adalah adikku, Syifa.

“Kak…,kak.., kak Koko, sini kak, ayo pulang” , ajak adikku sambil melambai-lambaikan tangannya. Aku pun segera menghampirinya, “Oh kamu de, kiarain siapa, gak usah nungguin kakak de, pulang aja duluan, kakak mau main dulu sama temen” jawabku sambil memalingkan mukaku ke arah teman-temanku.

“Hmm…maen kemana kak?” tanya Syifa, “Udahlah kamu gak usah tau, ini urusan kakak” jawabku. “Palingan kakak mah main ke warnet kan? , yaudah Syifa pulang duluan ya kak, awas jangan ke maleman pulangnya”, balas Syifa. “Iya, iya tau” jawabku dengan memalingkan mukaku darinya.

Adikku pun beranjak pergi meninggalkanku, aku arahkan pandanganku ke arah dia pergi, dalam hati aku merasa menyesal selalu berprilaku seperti itu kepada adikku dan dalam hatipun aku berucap “padahal dialah orang yang paling memperhatikanku,setiap hari dia menungguku untuk mengajakku pulang bersama, namun setiap hari itu juga aku menolaknya, karena setiap hari pulang sekolah aku selalu pergi ke warnet. Mungkin aku sedikit mengerti kenapa adikku selalu perhatian kepadaku, mengajakku pulang bersama, itu karena dia merasa kesepian berada di rumah, karena seperti biasa ketika dia pulang ke rumah, tidak ada siapa-siapa, tidak ada yang menyambutnya pulang. Ya, mungkin itu. Tapi..kalau dipikir-pikir kasihan juga, tapi.. ah sudahlah”

Kedua temanku menghampiri dan menepuk pundakku, “Oi Ko, jangan bengong gitu, ayo jalan, lets go to the warnet bro” , kata Fajar. “Gak apa apa tuh Ko, adikmu pulang sendirian?, kasian juga tiap hari ngajak pulang bareng, eh tiap hari juga kamu gak pernah mau pulang bareng sama adikmu” tanya retoris Faisal.

“Udahlah gak usah bawel, aku gak ngurusin dia, sekarangkan dia udah gede ”, jawabku.

“Oh gitu ya, okelah, eh..eh tapi Ko, adikmu itu makin hari makin imut aja, boleh dong dikenalin” kata Faisal.

“Sialan, enak aja, nggak-nggak”, jawabku kesal. “eeh katanya gak peduli , iya haha Cuma becanda kok Piis – -v”, jawab Faisal.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju warnet, letak warnet yang tidak terlalu jauh dengan sekolah, memungkinkan bagi kami menempuhnya dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan yang biasa kami lewati, kami terus mengobrol, tema obrolannya pun selalu sama, yaitu tentang game yang akan kami mainkan, selalu saja seperti ini, tidak ada yang berbeda. Namun berbeda dengan hari ini, di perjalanan menuju warnet itu, aku berpapasan dengan sesosok bidadari, tidak, lebih tepatnya seorang perempuan, bukan lebih tepatnya seorang akhwat yang menawan yang telah menarik hatiku. Matanya sayu dilengkapi dengan kacamata bening yang memandu matanya, terlihat sangat tenang dan penuh kharisma namun penuh keanggunan, kulitnya cerah bak terkena sinar rembulan, kerudungnya lebar,berpakaian sebagaimana muslimah sejati. Hanya dari melihatnya satu kali saja, aku sudah tau, bahwa dia bukan perempuan biasa, namun aku tidak bisa membohongi perasaanku ini, ya sepertinya aku menyukainya. Mungkin ini yang namanya “Cinta pada Pandangan Pertama”. Dadaku terasa berdebar melihatnya, waktu terasa berjalan lambat, dan akhirnya… dia pun pergi melewatiku.

“Eh, kalian tau gak siapa perempuan yang lewat tadi, kalau dilihat dari seragamnya kayanya dia satu sekolah sama kita ya?, tanyaku penasaran.

“Aduh Ko, kemana aja sih lu? , dia itu Bella, nama lengkapnya Bella Syifa Rasyidah, dia ada di kelas sebelah, Bella itu popular bro, udah cantik,pinter,sholeha lagi, tapi dia punya julukan bro, dikalangan laki-laki dia dijuluki“The Untouchable”,Ko”, papar Fajar.

“Gak usah ditanya Jar, si Koko mah pikirannya dota1 mulu. Eh tapi Jar, gitu-gitu juga si Koko punya julukan juga, di kalangan para gamers Koko dipanggil “The Unstopable”, haha..” , tambah Faisal sambil tertawa.

“Hah.. Apa..apa…Bella? Bella siapa tadi? kelas sebelah? “Untouchable”?, kok aku gak pernah liat ya?”, tanyaku penasaran.

“Wo..wo..wo, satu-satu bro nanya nya, kalem,slow,enjoy” jawab Fajar

“Oke gini Ko, biar aku jelasin…, eh besok lagi lah kita ngobrol lagi, udah sampe warnet nih, udah sekarang mah maen dulu aja Ko”, jawab Faisal.

“Ah, bikin penasaran aja, sekarang aja buru” , paksa ku.

“Besok aja Ko, sekarang mah focus aja dulu main game, nanti kalah lagi, saatnya senang-senang sekarang mah,gak usah mikirin yang lain, nanti lagi besok aku jelasin lah soal Bella mah, kenapa kok sebegitu pengen taunya, naksir ya, kamu suka ya sama dia Ko?” , sanggah Faisal

“Ng…ngg…gak kok, Cuma pengen tau aja, oke lah besok ya, ok sekarang maen dulu, sini bro masuk ke room “APSO MENUJU PERUBAHAN 2” , jawab ku sambil mengetik di keyboard.

Keesokan harinya…

Kukuruyuuuk……….

“Kak, bangun kak, udah pagi, kak bangun, ayo sholat shubuh dulu, kak ayo, kalau gak bangun syifa banjur nih sama air” , kata Adikku sambil memaksaku untuk bangun.

“Iya,iya tunggu, kakak bangun, ini masih pagi kan, sholat nanti dulu ya, lima menit lagi,zzz” , jawabku sambil tidur lagi.

“Yah, jangan tidur lagi kak, jangan di nanti-nanti sholat mah, ayo kak, kewajiban kita itu, kalau dijalanin dosa loh, nanti masuk neraka loh, mau kak?” , jawab adikku.

“Deg” ,hatiku, hatiku, terasa berdebar mendengar perkataan adikku ini, aku bergegas bangun dan mengambil air wudhu untuk segera melaksanakan sholat subuh.

“Kak, berangkatnya bareng yah” ajak adikku

“Koko,Syifa ini sarapannya udah Ibu buatin, nih Ibu masak nasi goreng special” , panggil Ibuku sambil merapikan tempat makan.

Aku pun segera menghampirinya, Adikku menyusulku dibelakang, kami bertiga menyantap sarapan pagi bersama.

“Ayah kemana Bu?, udah berangkat?” , tanyaku.

“Iya, udah berangkat, baru aja, gak sempet katanya kalau makan di sini, jadi Ibu bungkusin sarapannya buat di makan di perjalanan” , jawab Ibu.

“Kak ayo berangkat, nanti telat lagi”, ajak Adikku.

“Ya, ayo ayo, tapi ada yang beda sama kamu de sekarang, tumben pake kerudung yang lebar de?, tanyaku penasaran.

“Iya kak, ini yang Syifa dapet dari Rohis sekolah, aku kan ikut Rohis ya, nah di sana aku dikasih tau kalau seorang muslimah itu harus kaya gini pakaiannya, harus pake hijab yang syar’i” , jawab Syifa sambil menunjukan pakaiannya.

Melihat pakaian Adikku, aku jadi teringat seseorang, ya Bella, aku jadi penasaran, siapa sebenarnya dia.

Di sekolah….

“Sal, ayo ceritain yang kemarin tea, itu siapa, Bella, iya dia, kok aku baru liat ya? dan kenapa dia dijuluki “The Untouchable” oleh kalangan laki-laki?”, tanyaku penasaran.

“Oke..oke, Bella itu salah satu anggota Rohis dan dia juga murid teladan di sekolah kita, kamu gak pernah lihat gara-gara kamu mah diemnya di kelas sama di kantin mulu Ko, dan diamah sering ada di masjid, kamu kan jarang ke masjid sekolah Ko, pantes aja baru liat, dan kenapa dia dijuluki “The Untouchable”? itu karena banyak cowok yang suka sama dia, banyak yang coba untuk deketin dia tapi semuanya gak ada yang berhasil, bahkan katanya di kelasnya pun dia jaga jarak sama laki-laki Ko, nah gitu Ko” , papar Faisal.

“Nah iya Ko, jadi gimana?”,tanya Fajar.

“Oh gitu, eh…? Apanya yang gimana Jar?”, tanyaku.

“Ya gimana lho cara supaya ngedeketin dia, gue tau lu suka sama dia kan?” jawab Fajar.

“Hmm…Iya, gimana ya…., aha, aku punya ide bro, gini..gini, aku akan gabung sama Rohis sekolah ini, biar bisa ngedeketinnya trus biar bisa ngedapetin hatinya Bella, mau ikut gak bro?” , balasku.

“Wih niat amat kamu Ko, sok aja aku gak ikut” , jawab Faisal.

“Haha optimis amat lu Ko, ide bagus tuh, tapi gue gak gak ikut, lu aja deh” ,jawab Fajar.

“Oh, yaudahlah, hari ini sepulang sekolah aku mau langsung daftar ke Eskul Rohis”,balasku.

Setelah kegiatan belajar mengajar berakhir, aku bergegas datang ke masjid sekolah yang menjadi sekre Rohis, di sana aku melihat dua orang laki-laki yang sedang mengobrol, segera akupun menghampiri mereka dan perbincangan dengan mereka pun tak dapat terelakkan.

“Maaf, saya ingin gabung ke Rohis, gimana caranya ya?” , tanyaku pada kedua orang itu.

“Alhamdulillah, oh iya sini dudukkita ngobrol dulu” , jawab dari salah seorang itu. “Oh iya perkenalkan saya Ilham Maulana Kelas 3-A Ketua Rohis sekolah ini, panggil saja Ilham dan ini Wakil Ketua Rohis Ryan Ahmad Kelas 2-F. Kalau kamu mau masuk Rohis sih gampang, tinggal isi formulir ini, kebetulan kami sedang membuka pendaftaraan anggota baru.”, papar Ilham.

“Oh gitu,hehe kebetulan yah , oh iya perkenalkan nama aku Koko, Koko Hadikusuma kelas 2-A”, jawabku sambil menawarkan tangan kepada mereka untuk berjabat.

Segera akupun mengisi formulir yang diberikan oleh Ilham si Ketua Rohis. Dalam waktu singkat aku mengisi formulir itu, segera aku mengumpulkannya kembali.

“Ini formulirnya sudah aku isi”, kata ku sambil menyodorkan formulir tersebut

“Oh.., ngomong-ngomong apa motivasi kamu Ko ingin gabung ke Rohis?”, tanya Ilham sambil mengambil formulirnya.

Angin berhembus sepoi-sepoi, sore itu langit cerah, sekolah terasa sepi, serasa hanya ada kami bertiga. Dalam hati ku bergumam,”apa yang harus aku jawab, , motivasi ku masuk rohis itu Cuma ingin deketin Bella, tapi kalau aku bilang gitu, nggak lucu sama sekali, terus aku harus jawab apa?”

“Motivasi ku ya? Hmm… motivasi ku… adalah ingin meratakan kotaku dengan Islam”, jawabku sambil mengepalkan tangan. Namun dalam hatiku berkata lain, tentu saja aku berkata seperti itu agar mereka percaya padaku, agar aku kelihatan serius.

“Oh motivasi yang bagus, kenapa kami menanyakan hal ini, karena kami Cuma ingin tau niat dari setiap anggota baru, bukankah kata Rasul amalan itu tergantung niatnya?” , jelas Ryan.

“Hehe…”, senyumku sinis.

“Iya, Terima kasih ya Ko ingin bergabung dengan kami, kamu di terima sebagai anggota baru rohis, untuk kegiatan eskul ini akan di mulai minggu depan pada hari Jum’at sepulang sekolah, info lebih lengkapnya nanti kami smskan”, jelas Ilham.

Beberapa hari kemudian… di sekolah

Treeengg…. (bel pulang sekolah telah berbunyi)

“Ko, ke warnet yu main dota!” , ajak Faisal.

“Ah nggak Sal, hari ini kegiatan pertama ku di Rohis”, balasku

“Cie “The Unstopable” taubat nih, mau pensiun lu dari game?, Tanya Fajar

“Ah lu Jar, kan gue udah bilang ini mah sampingan aja, ini mah cara biar bisa deketin si dia, ini baru step awal bro, Watch and Learn! , “balas ku sambil beranjak dari kursi.

“Okelah semoga sukses bro” , jawab Faisal.

Akupun berjalan ke arah masjid sekolah yang berada di bagian belakang sekolah, setapak demi setapak ku lewati bebatuan yang ada di jalan itu, dalam hati ku berucap, “apa yang aku lakukan, kenapa aku harus datang ke perkumpulan rohis ini, bukannya lebih menyenangkan bermain game bersama yang lainnya, ini seperti bukan aku yang biasanya, atau inikah aku yang sebenarnya?”. Di situ aku merasa bingung, apa yang sebenarnya terjadi, kok bisa ya, hanya untuk seorang perempuan aku melakukan hal seperti ini, bergabung ke Rohis. “Seberapa specialkah dia yang telah membuatku melakukan sesuatu yang bukan jadi style seorang Koko ini?” tanyaku dalam hati. Sesampainya di masjid, adzan berkumandan, menandakan waktu sholat Ashar telah tiba, akupun segera mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Ashar berjamaah. Kegiatan eskul dimulai setelahnya.

Kami duduk di dalam masjid, yang laki – laki berada di sebelah kanan dan perempuan di sebelah kiri kami, terdapat jarak ternyata di antaranya. Ilham si Ketua Rohis berada di depan menjadi pembicara, dia menyampaiakan sesuatu yang berkaitan dengan ramadhan, tapi aku tidak begitu memperhatikannya, aku sibuk memperhatikan hal lain, karena memang tujuanku sebenarnya ada di sini bukan untuk mendengarkan ceramah, tapi untuk lebih dekat dengan dia, ku lihat baik-baik di antara perempuan-perempuan yang ada di sana, dan ternyata benar dia berada di sana, dia berada di dekat adikku. Aku kaget sekaligus senang melihatnya, aku tidak menyangka kalau adikku berteman dengan dia “The Untouchable” . “Wah, ini kesempatanku untuk lebih mengenalnya melalui adikku” kataku dalam hati.

“Kakak? Kak Koko? Beneran ini kak Koko? Syifa gak lagi mimpi kan”? , tanya adiku heran

“Iya, ini kakak, beneran kamu gak lagi mimpi de – -‘” , jawabku tidak bersemangat.

“Kakak ikut Rohis juga, kok gak ngasih tau aku sih?” , tanya adikku.

“Iya ikutan de, kan biar surprise, hehe” , jawabku sambil tersenyum sinis.

Tiba – tiba seseorang yang aku incar mendekati aku dan adikku dan bertanya…

“Syifa siapa dia?”, tanya Bella kepada adikku. “Oh, Kak Bella, ini kakak kandungku kak, namanya Kak Koko”, jawab adikku. “Ini kesempatan , nice Syifa (y)”, dalam hatiku berbicara.

“Ehm.. perkenalkan aku Koko Hadikusuma kelas 2-A adikknya Syifa”, kata ku sambil mengulurkan tangan dengan hati yang berdebar.

Seperti yang kuduga, dia tidak menyambut tanganku, dia menempelkan kedua telapak tangannya dan menyalami ku dari jauh tanpa mengenai tanganku sambil menyebutkan namanya “Aku Bella kelas 2-B”. Aku pun segera menarik tanganku dan meniru dia.

” Ini baru awal dari cerita, ya ini awal cerita yang bagus”, kataku dalam hati sambil tersenyum.

“Kak, pulang bareng yu”, ajak adikku. “Ayo”, jawab ku.

Setelah bergabung dengan rohis tiap minggu aku selalu menyempatkan waktu untuk datang kumpulan rohis di masjid sekolah tapi sekali lagi bukan untuk mendengarkan kajian, niat ku datang karena ada dia, yakarena ada Bella di situ, tiap ada perkumpulan dialah yang selalu ku perhatikan, namun kuperhatikan juga dia tidak pernah memperhatikanku. Kalau kata orang mah “Cinta bertepuk sebelah tangan”, ya perasaan itulah yang ku rasakan.

Satu bulan aku berganung, rasanya sudah sangat lama, jenuh mulai ku rasakan, karena tidak ada hasil yang ku dapatkan sejak aku bergabung dengan rohis. Dan di situ aku membulatkan tekad untuk menyatakan perasaan ini kepadanya. “Aku akan memberanikan diri untuk bicara dengannya”, kata ku dalam hati. Lalu tiba di mana hari aku akan menyatakan perasaanku. Aku menyuruh adikku agar nanti setelah selesai kajian, pertemukan dia dengan aku, “ajak Kak Bella ke taman sekolah sepulang kumpulan ya, kakak akan menunggu di sana nanti!”, pinta ku kepada adikku. Sesuai dengan permintaanku sepulang kumpulan, adikku datang ke taman bersama Bella.

“Kak, ini aku ajak kak Bella nemuin kakak di sini, emangnya mau perlu apa kak?”,tanya adikku.

“Kamu gak perlu tau de, lebih baik kamu pulang duluan sana!” , suruh ku kepada Adikku.

“Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan denganku?”, tanya Bella kepadaku dengan wajah penuh penasaran, “kalau kamu ada yang ingin dibicarakan denganku,biarkanlah adikkmu itu menemaniku di sini” pinta Bella dengan tenang.

Aku tidak tahu harus berbicara apa, rasanya jantungku mau lepas, dadaku sudah berdebar – debar, ragu dicampur rasa malu, ya itulah perasaan yang kurasakan, tapi apa artinya semua usahaku jika tidak ku ucapkan sekarang.

“Iya, begini Bella, sebenarnya…, sebenarnya…., aku…, aku…, aku suka kamu, aku mulai ada perasaan sama kamu saat aku pertama kali melihatmu, mungkin ini cinta pada pandangan pertama, beneran aku suka kamu, aku mau kamu jadi pacar aku, Bella?” ungkap ku kepada Bella.

Dia diam, tanpa suara, sambil menundukan pandagannya… lalu…dia berucap..

“Aku tidak tahu harus bilang apa, jujur aku kaget dengan apa yang telah kamu katakan itu, baiklah aku akan memberikan jawabanku, tapi akan kusampaikan jawabanku melalui adikmu ini”, jawab Bella.

“Baiklah, aku tunggu”, balasku. Setelah itu aku pun segera pulang menuju rumah.

Di rumah aku tak sabar menanti kepulangan adikku, karena adikku lah yang memegang jawaban dari seorang yang aku sukai, tak sabar ku menanti jawabannya. Aku menunggu dengan penuh harap bahwa dia menerima perasaanku itu.

“Assalamu’alaikum, Syifa pulang” , aku mendengar suara adikku datang, segera aku menenemuinya.

“De, gimana tadi? Apa jawaban dari Bella,de? Cepet kasih tau kakak!” , tanya dan pinta ku.

Adikku terdiam sejenak sambil melihatku, “jawaban dari Kak Bella….” . “Apa de, cepet kasih tau!” pinta ku. “Tapi kakak harus ikhlas ya, gini kak, jawaban dari Kak Bella itu, dia bilang “pacaran itu adalah jalan mendekati zina, Islam tidak mengajarkan yang namanya pacaran, jika kamu bener cinta sama aku, maka seharusnya kamu tidak mengajakku untuk pacaran, karena pacaran adalah hubungan semu yang tak jelas kemana arahnya, jika memang kita ini jodoh maka Allah pasti akan mempertemukan kita kembali dan jika kita ditakdirkan bukan jodoh, maka Allah pasti akan memberimu yang terbaik daripada aku” , gitu kak jawaban dari Kak Bella”, jawab Adikku.

Mendengar jawaban itu… , dadaku tiba-tiba terasa sakit, namun juga terasa menenangkan, entahlah perasaanku saat itu tidak karuan, aku hanya bisa berdiam dan termenung, berharapa itu candaan dari adikku. Ku coba yakinkan diri sekali lagi dengan bertanya kepada Adikku.

“Ah yang bener de, gitu jawabannya? jangan bohong kamu”, kata ku kepada adikku dengan nada tidak percaya.

“Buat apa aku ngebohong kak?”, jawab adikku. “Oh, gitu ya, yasudah”, balas ku. Aku pun pergi ke kamarku dengan perasaan yang tak karuan ini, tentu saja aku meresa kecewa, selama satu bulan aku mendekati dia, selalu datang kumpulan di masjid, aku sudah rajin sholat, dan mengurangi bermain game, hanya untuk dia, hanya untuk menjadikan dia pacarku, namun semua itu pupus hanya dalam satu hari, tidak…, hanya dalam waktu satu jam saja. Kulampiaskan perasaanku ini dengan bermain game sepuasnya, tidak menghiraukan kembali apapun yang ada disekitarku. Yang kutahu game lah yang dapat menghiburku.

Dua minggu telah berlalu setelah hari itu, aku kembali pada rutinitasku, yaitu sekolah dan bermain game, selama dua minggu terakhir ini aku kembali jarang berkomunkasi dengan keluargaku lagi, terutama adikku, aku sudah tidak datang lagi ke perkumpulan Rohis, ya, aku kembali ke diriku sebelumnya. Aku tidak tahu, apakah yang kulakukan ini benar? Entahlah, namun aku merasakan suatu perasaan gelisah, rasanya perasaanku ini tidak enak. Adikku pun terlihat sedih, tak berani sering-sering berbicara denganku lagi, karena memang aku sudah jarang menanggapinya lagi jika ia mengajakku mengobrol. Namun, sesekali adikku juga menanyakan alasanku jarang kumpulan rohis lagi, sesekali juga ia mengajakku kembali untuk ikut kumpulan lagi. “Kakak kenapa akhir – akhir ini, gak pernah datang lagi ke masjid? ayok kak datang lagi, ikut kumpulan bareng Rohis lagi!”, tanya dan pinta adikku. “Bawel amat kamu de, bukan urusan kamu itu mah, jangan ganggu kakak,de, nanti kalah, tuhkan, aaah…gara-gara kamu ngajak ngobrol jadi mati aja ini hero kakak”, jawabku dengan nada sedikit marah.

Di sekolah… ketika aku sedang nongkrong di kantin dengan teman-temanku, tiba-tiba seseorang menghampiri kami, ternyata orang itu adalah Ryan si Wakil Ketua Rohis.

“Assalamualaikum, eh adaKoko, sehat Ko?”, tanya Ryan sambil menyodorkan tangangannya kepada kami.

“Walaikunsalam, sehat Yan”, jawabku sambil menjabat tangannya.

“Kemana aja kamu Ko, kok kamu udah 2 minggu kamu gak datang kumpulan? Kenapa, ada masalah Ko?” tanya Ryan sambil duduk disampingku.

“Ada kok Yan, gak kemana-mana, nggak – nggak ada masalah”, jawab ku. “Oh kalau gitu mah datang lagi atuh Ko, oh iya Ko, minggu depan kan kita masuk bulan Ramadhan, nah kita dari Rohis sekolah ngadain pesantren Ramadhan, nah nanti kamu ikutan ya!”, ajak Ryan.

“Wo..wo..wo, sory Yan motong bincang-bincangnya, nanti di bulan Ramadhan, jadwal Koko udah penuh, kita udah ngerencanain ngabuburit maen game selama bulan Ramadhan nanti, kalau gak ada Koko, bisa-bisa kita maen kalah mulu nanti”, pungkas Fajar.

“Iya Yan, maaf kayanya aku gak akan ikut, kita udah ada rencana mau ngabuburit maen game selama bulan Ramadahan nanti”, tambah ku.

“Oh gitu ya, haha jujur amat kamu Ko, yah kalau kamu nanti berubah pikiran, jangan sungkan datang aja, gratis kok, oh iya ini pesanku Ko, “Manusia boleh berencana, tapi Allah Yang Maha Berkehendak”, jangan sia-siain bulan ramadhan Ko, di bulan ramadhan itu segala bentuk kebaikan/ibadah itu dilipatgandakan”, papar Ryan. “Yaudah aku ke kelas dulu, Assalamualaikum” tambah Ryan sambil meninggalkan kami pergi.

Mendengar pesan dari Ryan, perasaan gelisah ku kembali muncul, dalam hati ku berkata “benar juga kata Ryan, aku merasa telah melewatkan sesuatu yang penting, ya, yang ku tau sesuatu yang penting yang terlewatkan itu adalah waktu, karena kalau dipikir – pikir lagi, setiap hari aku selalu bermain game, bahkan di bulan ramadhan tahun-tahun kemarin aku selalu menghabiskan waktuku dengan bermain game, aku terlalu banyak menggunakan waktuku hanya untuk bermain game, tidak untuk kehidupanku yang sebenarnya ini, lalu apakah sudah saatnya aku berubah?, ah nanti sajalah kalau sudah kelas 3, kalau sudah mau mendekati ujian, aku akan berubah”

Hujan turun deras sekali, karena memang pada saat ini sedang musim hujan, aku sedang berada di kamarku, seperti biasa aku sedang bermain game. Tiba-tiba adikku datang duduk di sampingku. Lalu…

“Kak, minggu depan kita sudah masuk bulan ramadhan” , kata adikku. “Iya, emangnya ada apa?”, tanya ku sambil focus pada layar computer. “Syifa mau minta maaf kak, kalau selama ini syifa banyak ngerepotin kakak, kalau selama ini Syifa suka bawel sama kakak, suka pengen tahu urusan kakak, maafin kalau selama ini Syifa nggak jadi adik yang baik buat kakak, maafin Syifa ya, Kak”, pinta Adikku.

Perasaanku gelisah mendengar hal itu dari adikku ini, aku tidak tahu kenapa perasaanku gelisah, apakah karena dia mencoba mengejekku atau…, tapi tidak mungkin. “Iya, kakak juga minta maaf ya, De”, balas ku sambil mengalihkan pandangaku ke wajah adikku. Ketika itu sekilas kulihat air mata mengalir keluar dari matanya, namun segera ia memalingkan wajahnya dan pergi keluar dari kamarku. Perasaanku semakin gelisah, sebenarnya apa yang terjadi?

Hari ini hari Selasa, hanya kurang 2 hari lagi saja bulan puasa tiba, aku melihat keluar dinding kelas, menatap awan yang mendung, melihat suasana luar kelas yang gelap tak tersinari matahari, “hari ini pasti akan turun hujan lagi”,pikirku. Dalam lamunan itu, aku berfikir tentang aku di masa depan, dan tiba-tiba, hp ku berdering , kriing…kriing… , aku mendapat pesan dari Adikku. “Kak, nanti pulang bareng ya, soalnya Syifa lupa gak bawa payung, ini sms dari pulsa terakhir Syifa, Syifa tunggu di depan gerbang sepulang sekolah”. Aku baca sms itu sekilas dan segera ku balas “Ya”.

“Oi Ko, jangan melamun mulu, oh iya ntar pulang sekolah kita ke warnet yu, maenlah sebelum liburan” , ajak Faisal. “Oke ayo, jangan lama-lama ya”, jawabku. Kebetulan pelajaran terakhir di kelas ku tidak ada, karena gurunya sedang berhalangan, sehingga kelas kami pulang lebih awal.

Kami pun pergi ke warnet dan bermain game, benar saja sesampainya di warnet hujan turun sangat deras, 2 – 3 jam telah beralalu, aku merasa gelisah, merasa tidak nyaman, sepertinya ada sesuatu yang penting yang kulupakan, ku coba ingat-ingat, dan benar saja, aku melupakan janjiku dengan adikku. Aku bergegas meninggalkan warnet, menorobos hujan dengan payungku menuju sekolah, untuk memastikan apakah adikku masih berada di sana atau tidak. Dan ternyata dia masih menungguku di bawah pohon dekat gerbang sekolah, aku segera menghampiri dia, ku lihat dia, tubuhnya sudah basah kuyup terkena air hujan. Aku tidak bisa berkata apa-apa selain “maaf kakak lupa”, tapi adikku menjawab “tidak apa-apa, yang penting kakak datang, ayo pulang kak, Syifa udah gak kuat dingin”. Segera ku antar dia pulang.

Dan benar saja firasatku itu, ke-esokan harinya dia sakit dan tidak pergi ke sekolah. Ketika aku sedang berada di kelas, hp ku bergetar…, segera ku angkat telepon itu, dan ternyata itu dari Ibu ku, Ibu ku menyampiakan pesan padaku dengan nada pilu “Ko, Syifa..,Syifa telah meninggal dunia, cepat pulang”. Mendengar itu, hati sakit sekali, badan ku terasa lemas, tanpa sadar air mata keluar dari kedua mataku. Aku pun bergegas pulang untuk memastikan keadaanya, aku pikir ini hanya mimpi atau candaan Ibu, namun setelah sampai di rumah dia, Adikku sudah terbujur kaku, di situ, air mata ku semakin deras mengalir, aku menangis menjadi-jadi semakin lemas saja tubuhku. Tentu aku merasa bersalah dengan kepergiannya adikku ini, aku merasa “kalau saja waktu itu aku tidak pergi ke warnet untuk main game, kalau saja waktu itu aku selalu ramah dengan adikku, kalau saja..kalau saja.., ya, hanya ada penyesalan dalam diriku, tapi sekeras apapun aku menangis, tidak akan bisa mengembalikan wakti walau hanya satu detik”.

Ibu bercerita, ternyata adikku ini punya paru-paru basah, jadi dia sensitive jika terkena udara yang dingin. Pantas saja kenapa Ibu selalu memperhatikan adikku, kini aku tahu alasannya. Namun semua sudah terlambat.

Tiga hari setelah wafatnya Adikku, yaitu hari Jum’at, hari itu telah memasuki bulan ramadhan, aku teringat oleh pesan dari Ryan “Manusia boleh berencana, tapi Allah Yang Maha Berkehendak”, jangan sia-siain bulan ramadhan Ko, di bulan ramadhan itu segala bentuk kebaikan/ibadah itu dilipatgandakan” , segera aku bulatkan niat, kuatkan tekad. Dalam hati ku berucap, “mulai saat ini aku Koko Hadikusuma, akan berhenti bermain game dan memanfaatkan sisa waktu ku untuk beribadah kepada-Mu ya Rabb, bulan ramadhan ini adalah awal dari Koko yang baru, tidak akan ada lagi Koko yang egois, tidak akan ada lagi Koko yang selalu acuh, tidak akan ada lagi Koko yang malas, yang hanya menghabiskan waktunya hanya untuk game, sebab aku tidak mau kehilangan keluargaku lagi karena kebodohanku ini”. Dan tanpa ku sadari air mata ku telah mengalir di pipi ku.

Bersambung…

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Setitik Cahaya di Bulan Suci

Oleh: Harni Marisa | Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Mentari menyapaku di pagi hari, selalu tersenyum bak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *