BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Sastra / Karya Cerpen / Hadirkan Dia dalam Hidupku

Hadirkan Dia dalam Hidupku

Oleh : Widyana Nuryana | PGSD

Dia selalu memperhatikan ku. Tapi, aku selalu mengacuhkannya. Dia mengetahui segala sesuatu tentang diriku. Tetapi, aku tak peduli. Dia berkata kepada ku, bahwa ia mencintaiku dan ingin aku menyebut nama-Nya dan mengingat-Nya setiap saat. Tetapi, aku malah tak menggubris perkataan-Nya itu.

“Mengapa aku harus mengingat-Nya, bahkan menyebut nama-Nya? Aku bukan seorang budak! Aku adalah seorang manusia yang terlahir bebas. Aku tak mau di kekang, aku ingin kebebasan!” Desisku dalam hati.

Itulah diriku yang dulu, diriku yang belum mengenal cinta-Nya. Yang tak pernah mau untuk memanggil dan mengingat  nama-Nya walau untuk sekali. Dulu, aku adalah orang yang tak beragama, karena kupikir agama hanyalah sebuah aturan, sehingga akan menghalangi ku untuk melakukan sesuatu. Dosa berkali-kali kulakukan, tanpa adanya penyesalan. Obat-obatan terlarang, minuman keras, bahkan berzina telah sering kulakukan.

Sehingga suatu  hari segalanya menjadi berantakan. Ayahku yang sangat kaya meninggal karena penyakitnya yang semakin memburuk. Ibuku pergi meninggalkanku demi lelaki lain. Bahkan Ibu menjual rumah kami untuk perayaan pernikahannya dengan lelaki sialan itu. Teman-teman yang selama ini berada di sampingku semuanya pergi. Saat ini, semua yang dulu ku genggam, terlepas dengan sendirinya, tanpa ada ucapan permisi dan kata maaf.

Pada saat itu, aku sangat depresi dan frustasi. Menyusuri jalan tanpa tahu kemana arah tujuanku. Hingga, aku melihat seorang wanita tua yang kedua kakinya sudah tidak ada, namun ia masih bisa berjalan menggunakan kedua tangannya. Butuh tenaga yang besar untuk menyeret kedua kakinya yang sudah tidak ada dan maju selangkah demi selangkah untuk mencapai tempat yang menjadi tujuannya. Ia berusaha untuk pergi menuju sebuah masjid tua yang berada di pinggir jalan.

“Mengapa nenek masih berusaha berjalan menuju masjid tua ini, padahal kedua kakimu sudah tidak ada?” Tanyaku pada wanita tua itu.

Ia hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku, ia pun melanjutkan perjalanannya menuju masjid itu. Karena penasaran, akhirnya aku mengikuti wanita tersebut. Aku menunggunya sampai ia selesai beribadah.

Setelah selesai, wanita itu keluar dan mendapatiku tengah memperhatikannya. Ia masih tersenyum melihatku dan mulai menghampiriku. Aku melontarkan pertanyaan yang sama kepadanya, dan ia mulai menjawab.

“Hidup ini sulit Nona. Tapi, kematian lebih sulit dari pada hidup. Percayalah,”  Katanya.

“Maka dari itu, saya berusaha membuat hidup ini menjadi lebih mudah. Lihatlah di sekeliling anda Nona, banyak orang yang lumpuh terbaring di tempat tidur, tanpa bisa merasakan nikmatnya memakan makanan dengan tangannya sendiri. Sedangkan saya, saya masih bisa menyantap makanan yang lezat menggunakan tangan ku sendiri. Masih banyak orang yang berada di bawah kita Nona. Janganlah selalu melihat ke atas. Sering-seringlah melihat ke bawah, agar kita senantiasa bersyukur terhadap nikmat Tuhan yang diberikan.” Lanjut wanita tua itu.

Aku tertegun mendengar jawaban darinya.

“Mengapa nenek selalu bergantung kepada Tuhan, padahal Tuhan itu tak pernah membantu dikala hidupmu sulit dan berantakan?” Tanyaku lagi kepada wanita tua itu.

“Karena, sekali kita merasa bergantung kepada-Nya, selama itu pula Tuhan menyediakan diri-Nya untuk kita semua. Dia-lah pintu segala harapan, Dia-lah penyedia segala kebutuhan, dan Dia-lah pemberi segala nikmat. Tuhan selalu membantu hambanya, namun melalui perantara. Tuhan tidak akan pernah membiarkan hambanya berada di dalam keputusasaan terlalu lama, karena Dia Maha Kasih. Temukan dulu Tuhan, maka penderitaan kita bukanlah lagi sebuah penderitaan.”

Aku terdiam dan tanpa sadar aku menetesakan air mata dihadapan wanita tua itu, aku malu terhadap diriku sendiri, malu terhadap Tuhan yang selalu aku acuhkan. Aku kotor, kotor dengan segala dosa yang selama ini telah kulakukan.

“Apakah aku masih bisa mendapatkan perhatian-Nya kembali? Karena aku sudah terlalu jauh dari cinta-Nya dan dosaku amat banyak. Apakah aku masih bisa menyebut nama-Nya walau aku seorang pendosa?” Tanyaku sambil terisak.

“Ketahuilah Nona, sesungguhnya Tuhan menunggu pintu-Nya diketuk, untuk kemudian Dia beri ampunan, maaf dan karunia-Nya. Dan Nona, tak pernah ada kata terlambat untuk melakukan taubat. Hadirkan Dia dalam hidupmu.” Jawab wanita tua itu.

“Lalu bagaimana caranya aku menghadirkan Dia dalam hidupku?”

“Luangkanlah waktumu untuk menyebut dan mengingat nama-Nya, syukurilah segala nikmat yang telah Dia berikan kepadamu. Manfaatkanlah waktu Ramadhan ini sebagai waktu untukmu mengetuk pintu-Nya, mohon ampun terhadap segala yang telah kau perbuat.”

“Terima kasih Nek, atas jawaban yang luar biasa ini. Akan ku mulai hidup baru dengan membawa nama Tuhan di dalam hidupku”. Tutur aku dengan penuuh haru.

Itulah awal mula aku mengejar cinta-Nya dan berusaha mendapatkan perhatian-Nya. Dengan dibantu wanita tua itu, aku mulai terbiasa melakukan shalat lima waktu, membaca Al-Qur’an, berpuasa, shadaqah, dan perintah Tuhan yang lainnya.

Dengan adanya Tuhan di setiap napas kehidupan, kini hidupku menjadi jauh lebih tenang. Hidayah tidak akan datang dengan sendirinya, tetapi kitalah yang harus mencarinya. Dan, langkah seribu mil selalu dimulai dari langkah pertama yang kecil, berubahlah menjadi lebih baik lagi sahabat.

“Wahai Bani Adam, apabila engkau mengajukan permohonan dan mengharap kepada-Ku, Ku-ampuni segala apa yang ada padamu tanpa peduli. Wahai Bani Adam, sekalipun dosamu bertumpuk hingga setinggi langit, tetapi kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, niscaya Ku-ampuni dosamu. Wahai Bani Adam, sekiranya engkau datang dengan dosa setimbang bumi, kemudian engkau menemui Aku dalam keadaan tak mensekutukan Aku dengan sesuatu pun, niscaya Aku karuniakan ampunan setimbang dosa itu” (HR. At-Tirmidzi).

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Setitik Cahaya di Bulan Suci

Oleh: Harni Marisa | Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Mentari menyapaku di pagi hari, selalu tersenyum bak ...

13 comments

  1. sheny narulita

    Bagus bagus 🙂 bkin terharu :’)))

  2. Bacaan ringan namun berisi. Pesan yg disampaikan dapat memberikan motivasi untuk menjadi pribadi yg lebih baik lagi disetiap harinya. Semoga kita semua lebih bisa menghadirkan Dia dalam tiap langkah kita. Aamiin

  3. lusi netalia lestari

    like yaa 😉

  4. bagus ceritanyaaaa , mengetuk pintu hati . semoga kita selalu menghadirkan dia dalam setiap waktu .

  5. Ia Siti Bahriah

    suka sama kata² ini
    Hidayah tidak akan datang dengan
    sendirinya, tetapi kitalah yang harus
    mencarinya. Dan, langkah seribu mil selalu
    dimulai dari langkah pertama yang kecil,

    dan banyak pesan yang dapat kita ambil. Semoga kita semua senantiasa bisa dan selalu menghadirkan-Nya didalam hati dan hidup kita !!

    • Li Xiao Ling

      sebuah alur cerita yang menginspirasi, syar’i dengan syair, ditambah dengan kutipan hadist sohih yang menambah kebenaran amanat kisah ini 🙂

  6. Li Xiao Ling

    Sebuah alur kisah yang menginspirasi, yang menanamkan ketaladan, ditambah dengan kutipan hadist yang sohih semakin mengangkat kebenaran amanat dari kisah ini 🙂 Good luck!

  7. Endah gantini

    Memotivasi.. tapi cerita tentang Dia yg hadir dalam hidup si “aku ” sedikit kurang.. emang ada, tp umum dan hanya apa yg ia lakukan untuk mndapat perhatian. kalo ada alinea ygp menceritakan tentang “aku ” setelah mengenal Tuhan bagus kayanya hehe tapi ceritanya bagus yanaa ^O^

  8. Bagus aku suka cerita nya bikin terharu

  9. setiap manusia memang tidak luput dari kesalahan dan setiap manusia punya masalalu yang berbeda, tetapi jadikan semua itu sebagai cermin agar kita dapat melangkah lebih baik lagi dimasa sekarang, esok, dan seterusnya ^_^

  10. Bagus, ceritanya simpel, tapi motivasi y dapet dan insyaAllah dapat menginsfirasi pembaca

  11. Keren cerita nya,bikin terharu. Like like like like.

  12. motivasi itu memang selalu bisa didapat kapan saja dan dimana saja, dan sekarang saya mendapatkan nya dari cerita ini. cerita pendek yang simple namun sarat akan makna.
    thanks for writer, and two thumbs for you^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *