BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Pendidikan / Keluarga dan Masyarakat / Generasi Emas, Sang Tunas Harapan

Generasi Emas, Sang Tunas Harapan

Oleh: Siti Karlina (Mahasiswa UPI Jurusan Pendidikan Teknologi Agroindustri 2013)

Telah umum kita ketahui bahwa setiap kita tak serta merta menjadi orang dewasa. Semuanya butuh proses dan tahapan-tahapan, termasuk daur hidup manusia. Mulai dari batita (bayi dibawah tiga tahun), balita (bayi dibawah lima tahun), anak-anak, remaja, dewasa dan lansia. Akan selalu seperti itu, bertahap.

Ada salah satu tahapan penting yaitu generasi yang pada masa itu merupakan masa di mana banyak hal bahkan semua hal dapat mudah diingat dan mudah diserap oleh otak. Dialah masa anak-anak. Ya! Masa anak-anak, saat setiap kita pada masa anak-anak dalam tahap perkembangan dituntut untuk belajar bergaul, bekerja, membina hidup sehat dan hal-hal lainnya. Hal-hal tersebut akan menjadi hal yng terus diingat karena pada masa anak-anak itulah seperti yang telah disampaikan sebelumnya, mudah dalam mengingat sesuatu.

Hal tersebut diatas menjadi hal yang patut diperhatikan oleh sang ibu, ayah juga termasuk untuk calon ibu dan calon ayah. Peran di posisi tersebut akan sangat berpengaruh pada bagaimana anak nantinya. Karena sejatinya setiap anak belajar dimulai dari bait-nya masing-masing dengan bimbingan ibu dan ayahnya. Bahkan ada sebutan terhadap seorang ibu, madrasatul uula, madrasah pertama untuk seorang anak. Maka sebagai orang tua, patut kiranya agar memahami bagaimana mendidik anak untuk mempersiapkannya menjadi ‘seseorang’. Terlepas dari peran orang tua di rumah, peran pendidik (guru) pun boleh jadi akan mempengaruhi anak.

anak2

Sebagai seorang guru, sama seperti orang tua harus memahami bagaimana mendidik anak didiknya. Pun yang harus diketahui adalah tahapan perkembangan anak.

Bagi kita semua sangat perlu untuk dipahami mengenai perkembangan anak untuk menyesuaikan bagaimana kita seharusnya memposisikan seorang anak. Salah kaprah sedikit saja mungkin entah di masa depan akan seperti apa. Bahkan tidak jauh di masa depan, saat anak memasuki masa remaja pun akan terlihat hasil dari bagaimana kita memperlakukannya saat masa anak-anak.

Tulisan ini sedikit banyaknya didasari oleh hasil pengamatan terhadap anak-anak yang secara tidak langsung memberikan suatu kesimpulan bahwa perkembangan anak pada masa anak-anak merupakan masa yang paing penting untuk diperhatikan. Mengapa? Anak-anak merupakan tunas-tunas yang menjadi harapan bagi orangtuanya. Tak hanya orang tua, setiap kita pasti memiliki harapan ke depan terhadap tunas-tunas tersebut.

Beberapa kasus anak di sekitar yang bisa diambil pelajarannya. Jangan jauh-jauh, dari hal kecil saja. Contohnya di jaman yang serba modern ini banyak anak-anak yang sudah memiliki gadget masing-masing. Sesuaikah dengan tugas perkembangannya? Yang menjadi guru atau calon guru dan siapapun yang mempelajari tugas perkembangan anak, akan tahu bahwa hal itu sebenarnya belum masanya. Apa jadinya ketika anak sudah memiliki gadget? Yang seharusnya ia belajar bergaul dan mempelajari lingkungannya, ia akan sibuk sendiri dengan gadgetnya. Alhasil beberapa anak jaman sekarang ada saja yang, mohon maaf, gagal dalam bersosialisasi dengan masyarakat. Padahal anak merupakan tunas harapan yang akan menjadi generasi emas yang diharapkan memiliki nilai sosial tinggi (salah satunya).

Ada juga kasus di mana anak yang memiliki motivasi yang rendah dalam bidang pendidikan. Padahal cikal bakal untuk pendidikan yang lebih baik bahkan peradaban yang lebih mantap. Terkadang anak terbiasa dengan lingkungan yang memang memiliki motivasi pendidikan yang kurang. Benar adanya memang anak dituntut untuk belajar bergaul dan mempelajari lingkungannya. Tetapi yang harus diperhatikan adalah lingkungan seperti apa yang baik untuk memupuk tunas-tunas tersebut terlepas dari landasan agamanya.

Terkadang anak membutuhkan figuritas, sosok yang menjadi figur untuknya dalam segala hal. Maka kembali pada posisi yang memiliki peran strategis dalam hal ini, harus mampu menghadirkan figur-figur yang membuat anak terkesan dengannya sehingga termotivasi untuk bisa sepertinya. Minimalnya memunculkan teladan dari diri sendiri untuk anaknya.

Pada akhirnya tulisan ini tak henti-hentinya menyatakan bahwa yang menjadi poin penting yaitu anak merupakan tunas harapan. Tunas-tunas yang diharapkan menjadi genersi emas, untuk kemajuan diri, keluarga dan juga masyarakat. Maka bagaimana pun, posisi kita semua harus memegang peranan yang penting untuk menumbuhkan tunas-tunas menjadi buah yang baik dimulai dari diri sendiri dan saat ini. []

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Anda Ingin Istri yang Penuh Berkah? Inilah 3 Cirinya

Anda seorang laki-laki yang shalih yang sedang mencari istri yang penuh keberkahan? Rasulullah memberikan tiga ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *