BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Sastra / Karya Cerpen / Di Hamparan Sajadah Biru

Di Hamparan Sajadah Biru

Oleh Achmad Tuqo S. Billah | Mahasiswa Pendidikan Biologi

Kutatap langit, lagi. Birunya begitu menentramkan. Gumpalan tipis awan-awan di sekelilingnya membentuk berbagai macam formasi tak beraturan. Indah sekali. Semilir angin kubiarkan mengembus wajahku. Hingga sesaat kemudian, kurasakan ada sesuatu yang mengalir di hatiku. Menyesakkan.

Dengan cepat aku raih air mineral yang kubawa di tasku, kemudian aku menenggaknya beberapa teguk.

Kugeser-geser lagi layar laptopku. Kedua bola mataku sibuk mengeja barisan aksara di sana. Cukup lama aku pandangi sebuah status Facebook milik seorang teman. Isinya tentang kontemplasi menyambut kedatangan Ramadhan. Aduhai, ini adalah ujung bulan Sya’ban!

Sebenarnya, pekan ini kegiatan perkuliahan telah diliburkan. Banyak mahasiswa yang tak melewatkan kesempatan berharga ini untuk menyambut Ramadhan di kampung halaman mereka bersama keluarga di rumah. Sedangkan aku, masih disibukkan dengan berbagai kepentingan ini dan itu, hingga akulah yang harus selalu mengalah dengan waktu, meskipun kuakui bahwa diri ini begitu merindukan rumah beserta orang-orang dan sejuta kisah yang ada di dalamnya.

***

Empat hari yang lalu, aku mendapatan sebuah pesan singkat yang isinya cukup membuatku terkejut. Untuk pertama kalinya aku mendapatkan undangan untuk mengisi sebuah kajian keislaman di sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa yang cukup besar di kampus ini.

“Kenapa mendadak, Teh?” ujarku lewat pesan singkat.

“Maaf jika informasinya mendadak. Tapi bisa kan, Kang?” timpalnya.

“Insya Allah bisa. Temanya apa dan tempatnya di mana?” balasku lagi.

Apakah pantas aku mengisi sebuah kajian sedangkan pengetahuanku masih sangat dangkal? Berkali-kali aku bergumam dalam hati.

“Temanya tentang persiapan menyambut Ramadhan, dan tempatnya di sekretariat, Kang. Kami tunggu kedatangannya ya, kalau ada apa-apa sms saja ke saya.. wassalaam.” Tutupnya.

“Iya, Teh. Insya Allah saya akan datang. Wa’alaikumussalaam.” hatiku meyakinkan.

Hari yang ditentukan pun tiba. Dengan bermodalkan Bismillahirrahmanirrahim, akhirnya kajian yang aku isi hari itu berlangsung dengan lancar, meski pada awalnya aku merasakan rasa gugup dan canggung yang luar biasa, karena aku memang masih perlu pembiasaan untuk berbicara di hadapan banyak orang.

“Ust, terima kasih sudah menyempatkan untuk hadir. Ini ada sedikit kenang-kenangan dari panitia..” ucap seorang akhwat bersama temannya, panitia sepertinya. Ia menyodorkan sebuah bingkisan dan sebuah amplop.

“Apa ini? tak usah repot-repot, Teh.” Kutelungkupkan kedua telapak tanganku sejajar dengan dadaku, aku tak enak menerimanya.

“Ih tidak apa-apa. Mohon diterima, Ust..”

Aku menghela napas.

“Jazaakallah, Teh. Maaf jika materi dan penyampaian yang saya berikan tidak memuaskan..”

“Tidak apa-apa, Ust. Jangan kapok mengisi kajian di sini lagi ya..” ucapnya lagi seraya membukakan pintu untukku.

“Insya Allah, Teh. Terima kasih banyak atas undangannya. Mohon sampaikan ke panitia yang lain, assalaamu’alaikum” aku pun berlalu meninggalkan tempat itu.

Alhamdulillah. Semoga menjadi pembuka pintu rahmat Allah agar diri ini senantiasa istiqamah dalam mempelajari agama-Nya.

Dengan langkah yang cepat bak menuruni sebuah bukit, aku langsung menuju fakultasku. Sore itu aku harus memimpin sebuah rapat besar pada acara rutin setiap bulan Ramadhan di fakultasku. Acara ini cukup besar, dan tahun ini aku diamanahkan menjadi ketua pelaksananya. Allahu Rabb.

Siang malam aku memikirkannya. Mempersiapkan segala sesuatu dari A sampai Z, hingga seringkali isi mimpiku pun tentang acara itu. Maa syaa-Allah. Lagi, aku berharap semoga setiap amanah yang Allah titipkan di pundak ini dapat menjadikanku pribadi yang matang, dan semakin dapat mendekatkan diri ini pada-Nya.

****

Semesta bertasbih di antara semilir udara yang mengalir. Nampak seraut wajah senja semakin merekah membayang di cakrawala. Datang dengan pesona jingga berbenang merah saga. Ramadhan telah mengetuk pintu. Ruhnya menyusup ke relung-relung kehidupan siapa saja, termasuk bagi manusia yang masih jauh dari kesempurnaan dalam ibadah. Seperti aku misalnya.

Marhaban yaa Ramadhan..” ucapku lirih, nyaris tak terdengar.

Sambil kunikmati suasana senja, kulangkahkan kaki perlahan. Kutelusuri trotoar antara kampus dan kontrakanku. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya lima sampai sepuluh menit jalan kaki.

Di perjalanan, aku bertemu beberapa sahabatku di LDK. Kusimpulkan senyum terbaik diiringi ucapan salam setiap kali aku bertemu mereka, tentu seorang ikhwan. Tak lupa kujabat tangannya dan kutanya kabarnya. Meskipun sekedar basa-basi, tapi inilah yang dapat menguatkan ukhuwah sesama saudara seiman. Dan itu yang sering aku rindukan.

Sesaat setelah sampai di kontrakan, segera kuambil tempat duduk sambil menunggu giliran mandi. Kamar mandi tampak penuh sore itu.

Dalam kesendirian, tiba-tiba bayangannya muncul. Tersenyum aku dibuatnya. Kemudian, lamat-lamat pandanganku buram. Mataku berkaca-kaca, hingga sedetik kemudian airmataku pun meleleh. Beribu penyesalan datang bagai debur ombak yang menggebu di hatiku.

Nenek. Sudah lima tahun aku hidup tanpanya. Seseorang yang telah membesarkanku dan adikku sedari kami kecil. Seringkali aku hanyut dalam penyesalan, seperti saat ini. Aku begitu menyesal karena belum sempat membahagiakannya, namun justru aku sering membuatnya terluka.

Ketika Ramadhan seperti saat ini, biasanya ia lah yang paling sibuk mempersiapkan segalanya. Dari menu buka puasa, sahur, sampai mencuci piring. Dan semua itu ia lakukan sendirian di usianya yang sudah sepuh.

Sementara aku dan adikku, justru malah sibuk dengan kegiatan lain. Setiap sore – ketika nenek sibuk memasak – kami selalu keluar, keliling dari kampung ke kampung untuk menantikan waktu maghrib. Hingga kadang kami berbuka dan kenyang makan di jalan.

Pernah suatu ketika aku membuatnya menangis kecewa. Betapa tidak, ia selalu merelakan waktunya di usianya yang senja, demi menyiapkan masakan terbaiknya untukku berbuka. Namun aku justru makan di luar, seolah tak menghargai masakannya.

Pernah juga suatu ketika aku membuatnya menangis tersedu-sedu. Saat itu, seusai salat berjamaah di rumah. Ketika nenek dan kakek larut dalam zikir, aku justru sibuk dengan handphone baruku. Saat itu pertama kali aku mengenal facebook, kelas IX SMP.

“Nak, daripada mainan HP terus, mendingan tilawah” ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar. Suara khas ketika seseorang telah sepuh.

Berkali-kali ia ucapkan kalimat itu, berkali-kali pula aku mengacuhkannya. Hingga kemudian amarah mencengkram ubun-ubunku.

“Diam kenapa, Nek! Dari tadi nyerocos mulu!”

Nampaknya ucapanku itu benar-benar mengiris hati dan mengoyak batinnya. Hancur. Sontak air matanya mengalir dengan deras.

“Maa Syaa-Allah.. tega sekali kamu berbicara seperti itu, Nak. Siang malam kami mengurus dan mendoakanmu agar kau menjadi anak yang saleh, namun apa balasanmu? Kau justru membuat nenek begitu kecewa..” ucapnya dengan suara yang sangat parau, ia menangis tersedu-sedu hingga pundaknya berguncang hebat. Berkali-kali ia usap air matanya dengan mukena, namun air mata itu tak berhenti mengucur deras di pipinya.

Aku diam. Diam yang sangat panjang. Mataku bergelayut dalam penyesalan. Sontak air mataku terjatuh saat itu juga.Kemudian aku meminta maaf, dan ia memaafkanku. Aku lantas ambruk di pangkuannya. Posisi yang sama dengan beberapa bulan kemudian saat nenek telah menghadap kepada-Nya. Aku menangis meraung-raung di hadapannya. Kutatap wajahnya. Begitu meneduhkan. Wajahnya memancarkan sinar ketulusan yang luar biasa. Kulihat bibirnya, ia tersenyum. Yaa Allah. Semoga ia ditempatkan di tempat yang mulia di sisi-Mu.

Sejak kejadian bulan Ramadhan lima tahun lalu itu, Allah membimbingku untuk kembali ke jalan-Nya yang benar. Mulai saat itu juga, aku tak ingin hari-hariku terwarnai dengan kelalaian, kemaksiatan, dan kemungkaran. Aku tak ingin hari-hariku terwarnai dengan kesulitan mengkhatamkan Al Quran dalam sebulan. Aku juga tak ingin hari-hariku disibukkan dengan urusan duniawi lantas melupakan kehidupanku di akhirat.

Dan, sungguh Allah Maha Mensyukuri sekecil apapun kebaikan yang dilakukan hamba-Nya. Sedikit demi sedikit aku mulai berubah. Sejengkal demi sejengkal aku mendekati-Nya. Aku datang sejengkal, Dia menyambutku sehasta. Aku mendekati-Nya dengan berjalan, Dia menyambutku dengan berlari. Allahu akbar..

Sungguh, di Ramadhan tahun ini, akan kualirkan lagi pahala-pahala terbaik dari ibadahku bersama doa-doa yang tak akan pernah berhenti terucap dari bibir ini untuknya, sosok yang begitu berjasa dalam kehidupanku.

“Demi nama-Mu Yang Agung, saksikanlah ya Allah.. aku tak akan membuatnya kecewa lagi di sana. Titip salam untuknya, Rabb..” Ucapku dengan linangan air mata.

Kemudian hening.

Hening yang cukup lama dalam sela-sela detik. Batinku remuk. Ragaku ambruk.

“Nek, aku rindu.. nasihatmu, doa-doamu, masakanmu, dan semua tentangmu..” ucapku lirih bersama rinai air mata dalam sujudku, di atas hamparan sajadah biru darinya lima tahun yang lalu, saat aku masih bisa melihat senyum mengembang di wajahnya. Meski itu untuk terakhir kalinya bagiku. [selesai].

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Syukurku Karena Mereka

Oleh Hilma HS | Mahasiswa PGPAUD             Namaku adalah Alika. Aku adalah seorang mahasiswi tingkat ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *