BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Opini dan Analisis / Derita Ibu dan Anak di Era Kapitalisme (1)

Derita Ibu dan Anak di Era Kapitalisme (1)

ibu-anak
Oleh: Shintia Rizki Nursayyidah, Ibu Rumah Tangga

LAYAKNYA seorang anak yang ditanya tentang cita-citanya, biasanya ia menjawab ingin menjadi dokter, polisi, atau insinyur. Namun, tidak dengan anak yang satu ini. Ketika ia ditanya tentang cita-citanya, maka ia menjawab ingin bunuh diri. Sungguh, tercengang dan miris ketika mulut kecilnya melontarkan kata bunuh diri itu. Bagaimana tidak? Anak usia 5 tahun sudah terbersit dalam dirinya ingin mengakhiri hidup.

Apa yang melatarbelakangi anak tersebut ingin bunuh diri? ternyata, ia merasa tertekan. Seringkali saya lihat ia melamun, tatapannya kosong. Hampir setiap hari, tak luput ia dimarahi dan dibentak dengan kata-kata kasar. Ia pun sering mendapat kekerasan fisik. Setiap kali anak itu rewel sedikit, tak segan tangan sang ibu melayang memukuli. Tak jarang juga hingga menyeret anaknya ke rumah karena sang anak mengamuk.

Fenomena tersebut hanya satu di antara ribuan fakta yang saat ini terjadi.Sungguh, di luar sana masih banyak penderitaan yang dialami kaum ibu dan anak. Dalam momentum hari ibu ini, saya mengajak pada seluruh kaum ibu khususnya dan masyarakat pada umumnya, mari kita segera hentikan penderitaan ini. Bagaimana caranya? Dengan mengetahui penyebab dan solusi untuk semua penderitaan kaum ibu dan anak ini.

Sesungguhnya penderitaan yang dialami kaum ibu dan anak ini akibat diterapkannya sistem Kapitalisme. Dimana dalam sistem ini, agama dipinggirkan untuk mengatur masalah ibu dan anak. Dalam kungkungan sistem Kapitalisme saat ini kaum ibu dalam posisi serba salah.Di satu sisi mereka memikul amanah mulia menjadi benteng keluarga; menjaga anak-anak dari lingkungan yang merusak sekaligus mengurus rumah-tangga. Di sisi lain mereka pun harus ikut bertanggung jawab ‘menyelamatkan’ kondisi ekonomi keluarga dengan cara ikut bekerja mencari nafkah tambahan atau bahkan harus ‘menggantikan’ posisi sang suami yang—karena imbas krisis ekonomi—terpaksa di PHK oleh perusahaan tempatnya semula bekerja.

Akibat himpitan ekonomi tidak sedikit kaum ibu lebih rela meninggalkan suami dan anaknya untuk menjadi TKW, misalnya, meskipun nyawa taruhannya.Kapitalisme pula yang telah menorehkan kisah pilu bagi para ibu, yang harus merelakan bayinya di sandera pihak rumah sakit karena tak mampu membayar biaya persalinan.Kemiskinan sistemik telah merampas hak seorang ibu untuk dekat dengan anaknya.

Fenomena ibu yang membunuh anaknya karena himpitan ekonomi pun kerap terjadi.Depresi kerap menjadi alasan seorang ibu tega melakukan tindakan nekad seperti ini.Bahkan ada yang berani mengakhiri hidupnya karena sudah tak sanggup lagi menanggung derita dalam rumah tangga dan persoalan hidup yang kian menghimpit. Lagi-lagi motifnya karena kemiskinan yang telah diciptakan oleh sistem Kapitalisme ini.

Maraknya perdagangan perempuan dan anak-anak (trafficking) tak kurang riuhnya.Jumlah kasus perdagangan manusia (human trafficking) warga negara Indonesia (WNI) tercatat paling tinggi di Asia Timur selama tahun 2014. Direktur Perlindungan Sosial Korban Tindak Kekerasan dan Pekerja Migran Kementerian Sosial (Kemensos) Indonesia, Akifah Elansary mengatakan, ada lebih dari 20 ribu kasus kasus human trafficking WNI di Malaysia ditangani selama tahun 2014. Itu belum ditambah dengan korban di Yordania, Turki, hingga Suriah. (republika.co.id)

Kondisi ini diperparah dengan munculnya gagasan gender equality (kesetaraan jender), yakni upaya menyetarakan perempuan dan laki-laki dari beban-beban yang menghambat kemandirian. Beban itu antara lain peran perempuan sebagai ibu: hamil, menyusui, mendidik anak dan mengatur urusan rumah tangga. Lalu berbondong-bondonglah kaum perempuan meninggalkan kodratnya.Mereka berlomba mensejajarkan diri dengan laki-laki. Namun apa daya, begitu mereka memasuki ranah publik, ekploitasi habis-habisan atas diri merekalah yang terjadi. Mereka menjadi obyek eksploitasi sistem Kapitalisme yang memandang materi adalah segalanya.Model, sales promotion girl, public relation hingga profesi pelobi hampir senantiasa berada di pundak kaum perempuan. Mereka menjadi umpan dalam mendatangkan pundi-pundi rupiah.

Sungguh, menderitanya kaum ibu dan anak di sistem kapitalisme ini. Maka dari itu, kita butuh sistem yang akan menyelamatkan ibu dan anak dari semua penderitaan ini. Dalam pandangan Islam, Allah Swt. telah menetapkan dalam berbagai nash syariah bahwa perempuan adalah kehormatan yang wajib dijaga. Dari awal kedatangannya, Islam benar-benar memuliakan dan memberdayakan kaum ibu secara hakiki.[]

 

Sumber : islampos.com

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Peran Ulama Dalam Membela Kemuliaan Al Quran

Peran Ulama dalam Membela Kemuliaan Al Quran Oleh : Tatang Hidayat *) Akhir-akhir ini, negeri ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *