BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Inspirasi / Kisah / Cut Nyak Dien Hadir Karena Islam bukan Emansipasi

Cut Nyak Dien Hadir Karena Islam bukan Emansipasi

Sejarah adalah sebuah pembelajaran yang sangat berharga bagi generasi selanjutnya. Yang tercatat didalamnya adalah kisah heroik dari berbagai Hero. Baik itu hero yang baik atau buruk. Untuk memperlajari dan menambah inspirasi, maka ambillah kisah dari pahlawan yang baik. Salah satu pahlawan tersebut adalah Cut Nyak Dien. Beliau adalah seorang pahlawan dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh. Cut Nyak Dien dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar, wilayah VI Mukim pada tahun 1848. Sejak kecil ia sudah biasa ikut dengan ayahnya, Nantan Setia, yang menjabat sebagai Ulebalang VI Mukim. Selain itu pada masa kecilnya, Cut Nyak Dien adalah anak yang cantik. Ia memperoleh pendidikan pada bidang agama (yang dididik oleh orang tua ataupun guru agama) dan rumah tangga (memasak, melayani suami, dan yang menyangkut kehidupan sehari-hari yang dididik baik oleh orang tuanya). Karena pengaruh didikan agama yang amat kuat, didukung suasana lingkungannya, Cut Nyak Dien memiliki sifat tabah, teguh pendirian dan tawakal.

Jiwa pejuang memang sudah diwarisi muslimah ini dari ayahnya yang seorang pejuang yang tidak kenal kompromi dengan penjajahan. Dia yang dibesarkan dalam suasana memburuknya hubungan antara kerajaan Aceh dan Belanda. Pada tanggal 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh, dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. Perang Aceh pun meletus. Pada perang pertama (1873-1874), Aceh yang dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Machmud Syah bertempur melawan Belanda yang dipimpin Johan Harmen Rudolf Köhler. Saat itu, Belanda mengirim 3.198 prajurit. Lalu, pada tanggal 8 April 1873, Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Köhler, dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman dan membakarnya. Kesultanan Aceh dapat memenangkan perang pertama. Ibrahim Lamnga yang bertarung di garis depan kembali dengan sorak kemenangan, sementara Köhler tewas tertembak pada April 1873. Pada tahun 1874-1880, di bawah pimpinan Jenderal Jan van Swieten, daerah VI Mukim dapat diduduki Belanda pada tahun 1873, sedangkan Keraton Sultan jatuh pada tahun 1874. Cut Nyak Dien dan bayinya akhirnya mengungsi bersama ibu-ibu dan rombongan lainnya pada tanggal 24 Desember 15.

Diketahui dalam perang Aceh tersebut, mujahidah ini turut ambil andil disana.Keterlibatan Cut Nyak Dien dalam perang Aceh nampak sekali ketika terjadi pembakaran terhadap Mesjid Besar Aceh. Dengan amarah dan semangat yang menyala-nyala berserulah ia, “Hai sekalian mukmin yang bernama orang Aceh! Lihatlah! Saksikan sendiri dengan matamu mesjid kita dibakarnya! Mereka menentang Allah Subhanahuwataala, tempatmu beribadah dibinasakannya! Nama Allah dicemarkannya! Camkanlah itu! Janganlah kita melupakan budi si kafir yang serupa itu! Masih adakah orang Aceh yang suka mengampuni dosa si kafir yang serupa itu? Masih adakah orang Aceh yang suka menjadi budak Belanda?” (Szekely Lulofs, 1951:59).

Perjuangan Cut Nyak Dien melawan Belanda hadir dalam bentuk upaya mengajar para wanita dalam hal mendidik bayi dan menanam semangat kepahlawanan melalui syair-syair yang menanam semangat jihad kepada anak-anak mereka. Ketika peperangan semakin memanas, Cut Nyak Dien terus menggembleng semangat para pejuang perempuan untuk turut serta membantu peperangan. Pun, ketika Teuku Ibrahim Lamnga, suami pertama gugur (29 Juni 1878) dan suami keduanya Teuku Umar juga gugur(11 Februari 1899). Cut Nyak Dien tidak larut dalam kesedihan dan berputus asa, melainkan sebaiknya beliau merasa bangga atas kemuliaan suaminya yang syahid dan terus melaksanakan perjuangan melawan penjajahan tidak manusiawinya kolonial Belanda hingga akhir hayatnya.

kontroversi-foto-cut-nyak-dien-sebenarnya-berjilbab-2Gambar 1.  Akun Facebok “Seuramoe Mekkah”mengklaim foto Cut Nyak Dien tua tidak berhijab adalah karena terpaksa setelah dianiaya Belanda hingga terlihat seperti wanita murahan, juga Cut Nyak Dien  enggan menoleh ke Kamera, karena merasa malu dan jilbabnya masih ada di lehernya, (Uniqpost.com).

Seiring berjalannya waktu, sejarah dakwah dan jihad dari peran mujahidah ini semakin memudar. Apalagi adanya pendistorsian dimulai dari sketsa gambaran sang mujahidah, dan makna keikutsertaan Cut Nyak Dien sebagai bentuk emansipasi dengan nama juang untuk menjauhkan pemahaman kaum muslimin dengan agamanya.

Pendistrosian ini dikarenakan besarnya ketakutan kaum sekuler ini disalurkan dengan gambar yang disebarkan palsu oleh musuh islam yang mana muslimah sejati yang terjaga hijabnya dan selalu berhijab setiap hari tetapi dihinakan dengan sanggul kepala inilah salah satu bukti deislamisasi terhadap pandangan kaum muslimin yang dibenturkan dengan paham sekuler yang mana jika dianalisa lebih lanjut maka point-point yang bisa diambil :

1. Wanita tidak wajib berhijab alasanya adalah foto cut nyak dien tidak memakai hijab.
2. Wanita tidak perlu memahami agama jika dilihat dengan sanggul kepala Cut Nyak Dien palsu ini.
3. Ajaran jihad perlu dihilangkan dari bumi indonesia dengan alasan nama perjuangan biasa
4. Muslimah yang ideal adalah yang tidak berhijab dan menutup aurat

Begitulah kebencian kaum kafir terhadap kaum muslimin yang mana dengan seperti itu perlawanan kaum muslimin tidak menjadi lebih gigih dan hanya berkutat pada pengamalan pribadi saja. Islam tidak hanya berkutat pada ajaran pribadi semata tetapi perlawanan terhadap penindasan yanga mana dengan dakwah dan jihad dalam menegakkan syariat islam maka keislaman seseorang bsa sempurna dan itulah contoh dari perjuanngan sosok cut nyak dien yang membela agama dan bangsanya demi tegaknya syariat islam di kota serambi mekah.

Dan untuk memahami mengapa Aceh memiliki begitu banyak tokoh perempuan yang lahir dalam melawan kaum imperialis? Menurut Teuku H. Ainal Mardhiah Aiy dalam artikelnya yang berjudul “Pergerakan Wanita di Aceh Masa Lampau sampai Masa Kini”, dijelaskan mengenai kedudukan perempuan di Aceh pada masa lampau. Perempuan Aceh diberi kesempatan dan penghargaan yang luar biasa untuk ikut serta dalam lembaga-lembaga negara serta kancah pertahanan karena Pemerintah Kerajaan Aceh Darussalam mengambil Islam sebagai dasar negaranya dan Qanun serta Hadits sebagai sumber hukumnya. Dimana, Islam mengajarkan bahwa semua manusia sama derajatnya. Yang membedakan hanyalah ketaqwaannya dihadapan sang pencipta. Oleh karena itu, perempuan setara dengan laki-laki dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Maka adalah hal yang wajar jika banyak tokoh perempuan yang bermunculan dan berperan sama pentingnya dengan laki-laki di Aceh.Karena mereka berlomba-lomba untuk meraih ridho-Nya sesuai hak dan kewajibannya masing-masing.

Itulah luar biasanya Islam sebagai sebuah pedoman bagi setiap manusia ketika diterapkan secara praktis dalam kehidupan. Karena, Islam berasal Allah yang tahu akan kelemahan manusia dan kekurangannya. Sehingga, wajarlah jika Islam sesuai dengan fitrah dan akal manusia.

Wallahu’alam bi ash- shawab

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Menelusuri Jejak Islam di Nuu War (Papua)

Tidak betul bila dikatakan masyarakat Papua itu identik dengan Kristen. Sebab kenyataanya orang asli Papua ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *