BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Sastra / Karya Cerpen / Cinta di Ufuk Takwa

Cinta di Ufuk Takwa

Oleh Jainal Rasydin | Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab

              Tengah hari ini, kota Bandung seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Deburan angin yang berterbangan, membuat perih setiap mata memandang. Memang, tidur di rumah sambil menghidupkan pendingin ruangan menjadi pilihan utama bagi orang-orang.Melangkakhkan kaki keluar rumah untuk mengajarkan ilmu.Hampir dipastikan hanya beberapa orang saja.

                Awal-awal bulan Juli memang puncak musim panas.

            Dalam kondisi sangat tidak nyaman seperti ini, Fitriya sendiri sebenarnya sangat malas keluar.Belum lagi menahan lapar dan haus.Sesekali hatinya ketar-ketir untuk pergi atau tidak. Suasana yang jauh dari nyaman menunggu di luar sana. Namun niat harut dibulatkan.Bismillah tawakaltu ‘ala Allah.

“Ya Allah, bukakanlah hatiku dan tambahkanlah ilmuku.”Fitriya berdoa penuh takzim.Hatinya tersentuh dan menjadi lembut.

            Di luar rumah, terik matahari kian menyenggat.Orang-orang pasti berpikir berkali-kali untuk keluar.Mengisi waktu luangnya untuk bersantai. Benar apa yang dikatakan ummibahwa manusia itu kebanyakan tertipu dengan kesehatan dan waktu luang. Mungkin akan berbeda ceritanya. Jika hidup di Timur Tengah.Panas yang terjadi di bumi pertiwi ini tak seberapa dengan panasnya disana. Terutama di Pakistan. Belum lagi, panas di dunia yang tak sebanding dengan panas di akhirat nanti.

“Dek, udaranya terlalu panas.Apa tidak sebaiknya istirahat saja di rumah?”Ummi memberi saran.

“Fitriya gapapa kok Ummi.Kasihan anak-anak.Mereka pasti sudah menunggu.” sambil menggambil payung yang berada di sudut ruangan.

“Ya sudah, kalau menurut kamu begitu.Hati-hati di jalannya. Pulang ke rumah sebelum Maghrib ya! Biar nanti kita buka bersama.Kamu jangan terlalu sibuk di luar seperti bulan-bulan kemaren.Luangkan waktumu itu buat ummiyang makin tua ini.”Tukas ummi sambil bergegas masuk kamar kembali.

“Iya, ummi.” Dengan langkahan kaki, Fitriya menuju pintu dan satu lagi.Wuss, angin kembali menerpa wajahnya yang berparas anggun.

            Tepat pukul 01.00 siang. Fitriya berangkat dengan menggunakan TMB (Trans Metro Bandung) menuju persimpangan terminal kota. Bisa dikatakan transportasi ini menjadi kebanggaan orang-orang Sunda.Kelihatan modern dan lumayan cukup canggih.Walaupun tak sebaik dengan mobil Bandros yang disiapkan untuk para turis.Dalam cuaca seperti ini pastinya penumpang sepi.Begitu sampai di dalam, Fitriya langsung menggedarkan pandangan mencari tempat duduk yang kosong.Untungnya, tak jauh dari tempat berdiri. Ada tempat kosong pada jajaran kedua. Dia lalu menggeser diri dekat jendela dimana AC memberikan kesegaran di atasnya.Kenikmatan kecil yang Allah berikan terkadang membuat manusia lupa.Mereka hanya sibuk menghitung-hitung musibah.Dapat tempat duduk adalah rizki dari beberapa kenikmatan yang diberikannya. Seandainya air yang berada di lautan dijadikan tinta untuk menulis nikmat-nikmatnya, pepohonan di daratan dijadikan pena untuk menulis nikmat-nikmatnya, atau dedaunan yang berada di daratan dijadikan lembaran untuk menulis nikmat-nikmatnya. Kita semua tentu tak akan mampu untuk menuliskannya. Bukannya bulan Ramadhan itu adalah bulan perasaan dan ruhani?Entahlah, yang tersirat di hatinya sekarang adalah mengajar.Sebuah kalimat sederhana yang berdampak besar bagi nusa dan bangsa.

            Metro berhenti.Pintu-pintu terbuka secara perlahan.Beberapa orang turun.Setelah itu para penumpang yang menunggu naik.Mereka basah dengan air peluh.Metro kian maju dengan cepat dari biasanya. Maklum, aktivitas di jalan tak seperti bulan-bulan lain.

            Di tengah perjalanan seorang pemuda yang berjenggot dengan pakaian lusuh.Sibuk menawarkan dagangannya.Sambil membawa karung yang ditenteng. Dia mendekatiku dan menawarkan robot gundam dan boneka barbie.

“Belilah Kak, kudoakan kau mendapatkan suami yang shaleh, bertanggung jawab, juga kudoakan umurmu berkah sehingga kau dan anak cucumu tidak perlu berjualan seperti diriku!”

            Siapa yang tidak terenyuh mendengar kata-kata yang penuh doa seperti itu. Hatiku sebagai seorang wanita luluh. Peta hidup yang kurancang setelah lulus S-1 tiada lain ingin menyempurnakan iman dan agama. Aku akhirnya membeli boneka barbie dan robot gundam. Semuanya berjumlah menjadi dua puluh ribu rupiah.Metro pun berhenti kembali. Persimpangan terminal kota pun di depan mata. Aku lalu turun.Pemuda berjenggot itu mengucapkan terimakasih.

***

Daerah kecil di pinggir kota Bandung yang terhimpit dengan arus terminal manusia. Kami jadikan lahan untuk membantu sesama. Adalah Reno, teman sekelasku dulu menjadi penggagas untuk membuat komunitas Rumah Pelangi. Sebuah komunitas yang menaungi anak-anak jalanan yang tentu tak merasakan nikmatnya bangku sekolah. Iman, Abel, Handsun, dan Fajar adalah anak-anak didikku yang baru 10-12 tahun.

“Kak Fitriya!!!” Seru mereka ketika aku datang.Terlihat senyum dan semangat menggelora dalam diri mereka.Perbedaan begitu kontras yang masih Fitriya kenang.Bagaimana tidak?Dulu mereka tampak terlihat seperti orang autis.Pakaiannya bau cat dan bahan pelarut.Matanya setengah menutup, ada ruam di sekitar hidungnya.Mereka sedang asyik menghirup lem Aibon.Kata mereka Lem menghilangkan rasa lapar dan sakit.Kadang melihat warna-warni yang cerah.Dan kadangkala, Handsun melihat ibunya.

“Kamu kelihatan begitu lelah Fit?” Reno menyapa dengan hangat.

“Yaa, begitulah.Seperti biasa, yang penting dijalani dengan senyuman.”

“Betul tuh apa yang dikatakan ustadzah Fitriya.Segala sesuatu itu harus dijalani dengan senyuman.Apalagi cinta.”Dwi selalu menggodaku untuk memilih Reno. Entah ketika itu dekat dengannya ataupun jauh. He’s true choice begitu cercahnya. Aku tak begitu menghiraukan.

“Oke, kita akan mulai pelajaran dengan membuat origami.Anak-anak, ikutin apa yang kak Reno bikin ya.”Anak-anak hanya manggut.

***

            Aku kembali ke rumah tepat pada pukul 03:45 setelah shalat ashar tepatnya.Kembali menaiki TMB yang membawaku ke rumah tercinta.Aku sudah tak sabar sampai ke rumah. Apalagi teringat akan nasihat ibu untuk buka bersama keluarga. Tak perlu menunggu lama. Dalam waktu lima belas menit bus yang membawaku ke rumah nampak dari utara. Aku segera masuk dengan penumpang yang lainnya.Interior dalam TMB yang aku naiki nampak berbeda saat aku pergi.Tidak ada AC yang memberikan kesegaran.Hanya angin dari luar masuk melewati sela-sela kaca kembali menerpa wajahku.

Kubuka kembali mushaf tercinta.Bacaan Qira’ah Sab’ah kembali kulantunkan. Aku jadi teringat akan perjalananku di Mesir. Belahan bumi yang dulunya mengkisahkan Fir’aun.Ketika Ramadhan datang, penduduk disana selalu membumikan bumi mereka dengan bacaan al-Qur’an. Entah itu ketika menunggu Metro, diam di toko, ataupun waktu lenggang lainnya.

Metro berhenti, kali ini nampak seorang pemuda naik.Pemuda yang tampil lebih elegan dibanding pemuda penjual mainan tadi.Dia kelihatan bingung mencari tempat duduk.Dia lalu duduk sejajar denganku.Seuntai senyuman keluar dari bibirnya.Membuat suasana tak terlalu tegang.Aku waspada karena biasanya para penghipnotis senantiasa menggelabui para korbannya. Sejenak, aku melirik apa yang akan ia lakukan. Dia nampaknya bersiap menggeluarkan sesuatu dari tasnya.Aku hanya bersiap dengan jarum yang terbalik dalam kerudungku.Aku siap memberikan perlawanan. Tapi, yang ia keluarkan hanya mushaf. Dengan santai dia membaca mushafnya. Aku begitu tahu apa yang ia lagamkan. Dia melagamkan Qira’ah Sab’ah, lagam Imam Warasy.Suaranya merdu begitu mengisi qalbu.Tanpa terasa aku begitu terpaku dengan bacaannya. Aku pun sampai lupa kembali akan bacaanku.

            Metro kembali berhenti di tempat yang kutuju.Pemuda itu nampak bersiap turun juga.Ketika aku keluar dari bus.Dia berjalan di belakangku.Mendekatiku hingga beberapa langkah lagi.Aku bersiap dengan jarum yang berada di balik kerudungku.

“Maaf Nona, mushafmu tertinggal.”

Aku periksa kembali tasku.Rupanya benar tertinggal.Aku heran.

“Terimakasih.”Balasku sambil tersipu malu.Karena sudah berburuk sangka.

“My name is Fattah. Bacaan al-Qur’an nona begitu indah.”Aku sungguh malu dengan pujiannya.

“Ohh, terimakasih.Nama saya Fitriya.”Aku mulai gugup.Aku lalu bergegas pulang dan pamit diri kepadanya.Baru pertama kali ini, aku merasakan detak jantung yang cukup cepat.Di saat bersamaan, Reno menggirimiku sms.

“Bismilah Fit, sudah sampai di rumah?”

“Insya Allah, sebentar lagi.”Aku membalasnya singkat.

***

Tidak ada yang paling berkenang di dunia.Selain dengan kebersamaan.Suasana yang paling Fitriya rindukan. Tiada lain buka bersama. Sebagai mantan ketua BEM.Waktu bersama keluarga memang terkuras habis.Bersama Ummi masak dan menyiapkan buka untuk adik-adiku, Putri dan Nurani.Tapi terasa kurang.Karena tak ada sosok Abi yang menjadi pemimpin di kelurga ini.

Allahuakbar.. Allahuakbar

“Alhamdulilah.Dahaba dimau wab talatil uruq wa tsabatal ajroinsya Allah.”*.

  • Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah, serta pahala telah tetap, insya Allah.(HR. Abu Dawud)

            Selesai berbuka dan shalat maghrib. Maka sekeluarga kami melangkahkan kaki.Kembali untuk shalat Tarawih.Putri dan Nurani berlari kecil di hadapan kami.Seketika itu juga Ummi bertanya kepadaku.

“Dek, sudah ada pria pilihan kamu?Ummi pengen sekali nimbang cucu.”Lagi-lagi tentang laki-laki.Apakah seperti itu keinginan seorang ibu.

“Belum tau Ummi, kan jodoh itu Allah yang mengatur.Fitriya hanya bisa berdoa saja.”

“Iya Ummi tahu, tapi kamunya sudah membuka diri belum. Umurmu itu kan sudah 23 tahun. Alangkah baiknya sebelum lulus nanti kamu sudah punya pendamping wisuda.” Aku tak membalas terus berjalan dengan senyuman.

Adzan isya bersahutan.Pintu surga kembali terbuka.Orang-orang kian berbondong-bondong masuk ke mesjid.Tatkala iqamat kembali di kumandangkan.Momentum ibadah menggemba di hati.Ketika imam melantunkan takbir.Bacaan itu serasa aku ingat.Lagam Qira’ah Sab’ah yang pernah aku dengar.

Aku kembali menyelidik.Suara yang aku tangkap masuk ke gendang telinga.Suara-suara membuat kiasan eksagonal yang indah tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata.Selepas shalat Isya dan Rawatib, aku melihat di balik tirai gorden yang menjadi pembatas kaum Adam dan Hawa.Aku diam seribu bahasa.Mulutku tak bisa berucap, begitu kaget, Fatih menjadi imam.Dia segera mendekati mimbar untuk mengisi tausiyah terlebih dahulu.

Alhamdulilah, segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat di tangan-Nya segala perkara. Dialah yang membuat manusia tertawa dan menangis. Saudaraku seiman semoga dirahmati Allah, memang sebuah hal yang diketahui bahwa manusia akan terus merasakan dua hal dalam hidupnya, kesedihan dan kegembiraan. Kedua kondisi ini senantiasa menyertai seorang manusia mulai dari kecil hingga ajal menjemputnya. Akan tetapi, seorang muslim adalah seorang yang memiliki prinsip dan keyakinan teguh bahwasannya segala perkara ada di tangan Allah subhanahu wa Ta’ala.

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali ijin Allah, dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu.*

·          QS: At-Thagabun :12·          QS: Al-Baqarah : 214

Tamu-tamu Allah yang saya hormati.Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. *

Inilah nasihat yang belum aku rasakan akan sensasi tausiyah yg dibawakan. Ruh jiwaku kembali terbakar akan semangat dan kosentrasi. Aku teringat akan sinar matahari yang fokus mampu menjadi apa yang membakar. Sesekali pandangannya bertemu denganku. Dan ces! Ada setetes embun dingin menetas di hatiku.Kurasakan tubuhku bergetar dan memalingkan pandangan.Sewibawa itukah dia?Dan kami pun shalat Tarawih bersama.

***

Tepat sesudah Shubuh.Suara ayam tak lebih indah dibanding dari biasanya.Kebetulan hari ini adalah hari terakhir Reno menimba ilmu di pesantren.Banyak sekali tinta emas yang dia torehkan selama di pesantren, mulai dari khatam Al-Qur’an, hapal kitab-kitab kuning.Tak heran, para gadis menunggu madu tersebut agar dipinangnya.Namun, dia tidak pernah terpicut dengan para santriwati.Hanya satu wanita yang membuat hatinya terpikat.Wanita yang selalu menjaga anak-anak dalam komunitasnya. Wanita itu tiada lain bernama FITRIYA AULIA. Dan Reno akan mengirimkan surat cinta untuknya lebih tepatnya surat lamaran.

***

Hari minggu sekarang, awalnya masuk 10 hari terakhir.Nampak sinar matahari terang di langit.Namun tidak sepanas hari-hari sebelumnya.Kanvas putih di langit pun hanya sepintas adanya.Aku kembali termengun.Apa yang terjadi pada diriku? Apakah aku merasakan cinta?

Aku hanya kembali membaca buku harian Ummi dengan Abi.Sungguh romantis.

Dia mencintaiku.Aku pun sebaliknya.Kami memang mulai jatuh cinta yang sedalam-dalamnya tepat di hari pernikahan kami.

Seungging senyum aku kembali untaikan.Lalu membaca kembali buku yang bercover dua burung merpati.Kutemukan beberpa untaian kata hati lagi.Begitu aku menyebutnya.Sungguh, romantis sekali.Bisiku ke dalam hati sambil merosotkan tubuhku ke kursi.Adakah ini benar-benar terjadi dalam kehidupan Ummi? Ah, sepertinya begitu. Akupun kembali tersenyum.

Aku teringat kembali dengan Ummi ketika membaca buku hariannya.Abi yang selalu memberikan kasih sayang, cinta, serta perhatian penuh terhadap keluarga ini.Aku begitu menyanyangi dia. Namun, Allah SWT lebih menyayanginya. Dia kembali menghadap Sang Illahi ketika aku baru berumur lima belas tahun. Ohh Abi, kau pasti sedang di surga sekarang.

Hari itu seperti pelangi bagiku, ketika laki-laki tampan itu datang beserta keluarganya.

Hariku penuh senyum, lidahku kering oleh nyanyian cinta.

Payah, kenapa aku jatuh cinta sekarang?

Bukankah seharusnya nanti saja, ketika telah halal bagiku untuk mencium punggung tangannya.

Romantis sekali hikayat cinta mereka.Kisah cinta abi dan ummi benar-benar bersih dari pacaran dan sebagainya.Pernikahan mereka ideal.Meski ummi bukan seorang jilbaber, tetapi pandangan ummi tentang cinta tak jauh berbeda dengan diyakini para ikhwan dan akhwat. Kata ummi, ia seharusnya belum jatuh cinta sebelum balutan cinta itu sendiri diresmikan.

Prenggg…

Suara gelas pecah membuyarkan kenangan manis ini. Aku langsung mencari asal sumber suara itu berada.Kudapati Ummi yang tergeletak di dapur.

“Ummi..Ummi!!”Putri dan Nurani, dua saudaraku cepat mendatangiku. Mereka bertanya padaku apa yang terjadi dengan ummi? Aku langsung memberikan perintah kepada mereka agar mencari bantuan keluar.Kusentuh tangan ummi, denyut nadinya masih terasa.Tapi ritme jantungnya mulai melemah.Bertahanlah ummi, bantuan segera datang.Tak lama setelah itu, orang-orang datang masuk ke rumah.Membawa Ummi ke rumah sakit.Ummi bertahanlah!

***

Suasana ruangan menjadi tegang.Bau obat dan bahan kimia merasuk sampai impuls saraf.Aku hanya terisak-isak.Kulihat wajah Putri dan Nurani basah dengan air mata. Beberapa jam kegembiaraan yang kurasakan ketika bernostalgia kisah cinta ummi dan abi lenyap. Kota Bandung yang indah tiba-tiba seperti sarang monster yang menakutkan.

Beberapa menit kemudian seorang dokter keluar dari bilik kamar ummi yang sedang dirawat.

“Bagaimana Dok, dengan keadaan ibu saya?”

“Kebetulan ibu saudari..”Belum sampai beres memberikan diagnosa.”Fitriya??”

“Fatah??”

“Jadi yang di dalam itu ibu kamu?”

“Iya, jadi bagaimana hasil diagnosanya Fat? Maksudku Dokter Fattah.”

“Hasil diagnosa tadi, ibumu terkena heart stroke.”

Heart stroke itu seperti apa Dok?”

Heart stroke itu adalah penyakit disebabkan cuaca panas.Beliau kelihatan terlalu lelah.Istirahat yang cukup insya Allah bisa sembuh.”

“Terimakasih Dok.” Aku segera masuk ruangan.Aku ingin segera memeluk ibu.

Malam ini tak seperti malam biasanya,

Di malam sebelumnya yang aku dapat tertidur dengan mudah,

Kini mata ini tak mau terpejam,

Entah mengapa semua ini terjadi,

Entah apa yang mungkin kan terjadi,

Dikala melihat seorang wanita yang begitu aku sayang,

Mata ini tak mampu menahan derasnya air mata,

Rasa takut terasa menggerogoti tulang dan urat nadiku,

Rasa takut dikala matahari terbit esok,

Apa mungkin mata ini tak mau terpejam?

Atau memang aku saja terlalu takut memejamkan mata yang mulai melebam

Aku segera mengontak Bibi Sarah.Agar mereka membawa Putri dan Nurani.Aku tak ingin ibadah shaum mereka terganggu dengan keadaan ummi.

Suara handphone-ku kembali bersua.Sms baru kembali masuk.

“Aku turut berduka dengan keadaan ummi kamu Fit. Bagaimana keadaan beliau?Udah siuman?”

“Alhamdulilah, beliau sudah ditangani dengan baik.Beliau sedang istirahat.”

“Moga ummi kian membaik yah Fit.”

“Amien, makasih yah Reno.”

***

R.S Kebon Jati menjadi tempat ummi berada di awal malam lailatul qodar. Aku semakin termenung, belum bisa memberikan apa yang ummi inginkan. Aku teringat waktuku dulu begitu terkuras dengan organisasi.Tak ada waktu untuk menemani ummi.Hanya rasa sepi yang kubisa berikan.Suara pintu kamar terbuka.

“Assalamu’alaikum..”

“Wa’alaikumussalam, Reno?”

“Fit, aku bawa buah-buahan dan kurma untuk buka kamu dan ummi.” Reno membawakan bungkusan makanan.Dia datang membesuk dengan keponakannya yang bernama Anna.Dia nampak lucu dengan pipinya yang imut. Aku jadi kepikiran akan apa yang diinginkan ummi. Seorang cucu.

Maghrib datang dengan senyuman.Orang-orang pasti kian bersemangat berbuka apalagi menjelang kemenangan.Aku terus bertanya pada diri sendiri.Kapan ummi siuman?Dwi berusaha menghiburku. Aku kembali mengkerutkan kepala.Rasa penat berkecamuk sekarang.

“Fit, alangkah baiknya kamu berbuka dulu. Tak baik kalau tak di segerakan.”Hatiku memang merasa pilu dengan Ummi.Tapi orang-orang di sekitarku, rekan-rekanku di rumah pelangi selalu meluapkan perhatiannya kepadaku.Hidup dalam kesendirian memang menakutkan.Aku beruntung memiliki mereka, beruntung di pertemukan dengan orang-orang seperti mereka. Si kecil Anna pun menarik lenganku untuk buka bersama dengan Reno dan Dwi. Aku pun hanya menurut.

Selesai berbuka dilanjut shalat Maghrib.Dwi pamit pulang terlebih dahulu karena harus pergi ke Dipatikur. Acara bersama teman-temannya untuk makan nasi goreng mafia tak bisa dillewatkan.Reno pun pamit.Karena si kecil Anna sudah merengek ingin pulang. Aku teringat akan boneka barbie yang dibeli di metro bus. Kuberikan padanya.Dia tersenyum dan bahagia.Lain lagi dengan Reno. Sebelum pergi, dia memberiku sepucuku surat. Entah apa isinya. Aku akan membacanya nanti. Yang mesti kulakukan sekarang, tentu menghidupkan malam pertama Lailatul Qadar, meminta kepada Rabbi.Agar ummi lekas sembuh dan merayakan fitri bersama-sama kembali.

“Ya Alloh, Tuhan manusia, lenyapkanlah segala penyakit, sembuhkanlah, Engkau Tuhan yang menyembuhkan, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan-mu, yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan suatu penyakit pun”.

***

Kerikil di mata belum sepenuhnya hilang. Aku cuma terlelap satu jam setengah, tapi itu sudah cukup untuk meremajakan seluruh syaraf tubuhku. Setelah shubuh, aku membaca al-Qur’an.Kulestarikan kegiatan rutin tiap pagi hari.Meskipun pagi ini kulihat mata ibu masih belum terbuka.

Aku bangkit dari sajadah yang membentang.Kepalaku terasa berat mungkin karena kurang tidur. Aku jadi teringat dengan sepucuk surat dari Reno yang kusimpan di tas yang tergantung di sela-sela pintu. Aku belum membacanya. Segera kuambil surat itu dan kubaca.

Kepada

Firtiya Aulia

Dua kemenangan yang agung

Di bumi perjuangan mulia

Bismilahirahmanirahim

Kepadamu kukirimkan salam terindah, salam para pejuang Illahi Rabbi. Salam yang harumnya melebihi mawar.Salam hangat sehangat mentari pagi bersinar.Salam suci sesusi dari air mata Salsabil yang berada di surga.

Entah dari mana aku mulai menyusun kata-kata ini. Saat kau baca surat ini anggaplah aku ada di depan dirimu. Tak ada kata-kata yang bisa kuucapkan.Entah mengapa bibirku membisu.Tapi rasa hormat dan cintaku padamu semakin membesar di dalam dada, sesak, menyayat hati.Memberikan rasa sakit dan aku tak mampu menahannya.

Dalam hatiku sekarang, aku ingin halal untukmu.Aku tahu seharusnya aku tidak mengungkapkan perasaan ini padamu sekarang.Di saat ibumu sakit, aku malah mengungkapkan perasaan yang tak tertahankan ini.Maafkan aku, tapi aku merasa lega karena sudah mengungkapkan perasaan ini padamu.Dunia memang tak selebar daun kelor.Masih banyak jutaan wanita shalehah di dunia ini yang belum menikah.Tapi kubulatkan pilihan.

Doakan Allah mengampuni diriku.Maafkan atas kelancanganku.

Wassamu’alaikum

Yang dirundung cinta,

Reno Suryanegara

Aku sungguh tak percaya dengan apa yang kubaca. Reno mantan ketua osis dan ketua tutorial UPI, teman yang ada dalam lingkungan organisasi yang sama dengan diriku. Untuk pertama kalinya aku menerima surat cinta yang menyala dari seorang pria. Wanita yang kadang tomboi ini, rupanya dilirik oleh seorang pria yang tiada lain teman dekatnya. Aku menyeka air mata. Kulipat kertas surat itu dan kumasukan kembali ke dalam tas. Seketika itu juga ummi bangun.

“Dek, dimana ini?”Aku segera memeluknya.Mataku terasa berat dan perih. Seperti ada yang mengganjal disana.

***

Lima hari di rumah sakit dengan pengobatan itensif membuat ummi kian baikan.Dokter Fatah memberikan pelayanan dengan semaksimal mungkin.

“Minum yang cukup.Banyak makan buah-buahan seperti anggur, jeruk, apel, mangga, semangka, dan yang lainnya. Istirahat yang cukup 6-8 jam sehari semalam agar kondisi tubuh supaya tetap segar.” Dokter Fattah memberi penjelasan yang cukup dan sangat berguna bagi diriku.

Aku membuka jendela kamar lebar-lebar.Senja musim panas di bulan Ramadhan sungguh indah meskipun tak seindah musim semi.Semburat mega kemerahan menghiasi langit di iringi kavas-kanvasnya yang halus.Angin bertiup semilir seolah menghapus hawa panas. Sepulang dari rumah sakit nanti, aku mesti merubah kembali peta hidup yang telah kurancangkan ke depan. Aku lebih banyak di rumah menggurus ummi yang semakin menua.

Tak terasa sudah memasuki malam ke 26.Tinggal empat hari lagi menuju kemenangan.Suhu panas mulai kembali turun. Bulan depan nanti, tepatnya Agustus adalah bulan peralihan dari musim panas ke musim dingin. Aku begitu banyak sekali mendapatkan pelajaran di rumah sakit.Tidak selamanya rumah sakit itu tempat yang menakutkan terutama dengan jarum suntiknya atau bau obatnya.Tapi sebagai tempat merenung untuk mensucikan diri.Mengantuk, pusing, mual serta kurang tidur semuanya bagaikan simponi hidup yang indah untuk berbakti kepada ummi.Ummi adalah segalanya bagiku.

Suara pintu kamar kembali terbuka.Ummi sedang memakan obat.Aku terkejut mendapatkan hadiah perekat jiwa.

“Kakk, Fitriya!!” Anak-anak Rumah Pelangi datang membesuk.

“Aduhh, kalian ini kalau di rumah sakit jangan ribut-ribut!” Nada Dwi agak sedikit membentak. Padahal dia sendiri pun ribut.Aku terharu dengan kunjungan mereka.

“Kak Fitriya, kami kangen sekali pada kakak. Kakak kapan ngajar lagi?” Sahut Iman, Abel, Handsun, Fajar, dan Fauzi secara bergantian.

“Insya Allah, sesudah lebaran nanti kakak akan mengajar lagi.”

Suara pintu kembali terbuka.Aku hanya sibuk bercengkrama dengan ummi dan anak-anak.

“Assalamu’alaikum!” Rupanya Bibi sarah dan dua adiku, Putri dan Nurani datang. Aku langsung memeluk mereka satu persatu.Pertemuan ini menjadi momen yang sulit dilupakan.

“Subhanallah, pertemuan keluarga besar yang berkesan.”Dokter Fatah menyapa sambil mengenggam anak kecil.Apakah dia itu anaknya?

“Saya punya kabar baik untuk ibu.Besok ibu sudah bisa pulang ke rumah.”Kabar gembira itu seolah membawa kegembiraan yang tak bisa diungkap oleh kata.

“Terimakasih Dokter.” Ibu tersenyum

“Oh iya, karena sebentar lagi mau adzan maghrib. Bagaimana kalau kita siap-siap untuk berbuka.” Ucap Dokter Fatah.

“Ide yang bagus tuh Dok!Kasihan si Fitriya ini.Terlihat lapar.”Dwi mulai dengan aksinya.

“Ihhh..Ewiii!!”Aku terlihat malu.

“Begini saja Dek, kamu dan anak-anak makan diluar gih sama pak dokter.”

“Kok Ummi gitu.”

“Biar anak-anak ga ribut Dek.Kasihan mereka mau berbuka.Biar ummi disini sama bibi Sarah.”

“Iya Fit, biar bibi yang menunggu ummi. Kasihan pasien lain kalau mendengar keributan disini.” Aku menurut saja, Dwi kelihatan senyum-senyum nakal. Aku rasa ada persekongkolan dibalik semua ini.

***

R.M Ampera menjadi pilihan kami berbuka.Selain tempatnya yang dekat dengan rumah sakit.Menu yang disediakan begitu khas dengan lidahnya orang Sunda.Ornamen-ornamennya terukir begitu indah.Di bagian dalam, di tengah ruangan ada panggung kecil setinggi setengah meter.Bentuknya bundar.Biasanya panggung itu dipakai untuk orang-orang bernyanyi lagu-lagu klasik.

“Fit, kau memilih menu kesukaanku.” Komentar Fatah, ia lalu bilang pada pelayan, “aku sama dengan dia.” Oncom Peda Kelapa, Perkedel Tahu, Pindang Lauk Emas. Pesanan kami sama.

Begitu hidangan tersedia.Adzan berkumandang, kami menyantap dengan tenang sambil menikmati semilir angin di waktu malam dan melihat indahnya perhiasan langit.Sesekali gelombang angin diterpa sinar rembulan.

Usai makan kami tidak langsung pulang.Kami pun shalat Maghrib di tempat yang telah disediakan.Fatah kembali menjadi imam dan sekali lagi.Kami pun shalat bersama.

Anak-anak tak mau menuruti kami untuk langsung pulang.Selepas shalat, mereka langsung bermain.Suasana begitu indah memang.Dengan permainan sederhana yang menurut anak-anak memang cocok untuk mereka.Dwi sibuk menggurusi mereka. Kejar-kejaran, petak umpet, itu yang kulihat.Meninggalkanku di kursi ayunan bersama Fatah.

“Mereka begitu riang yah Fit?” Malam sunyi berubah tegang.Tapi jujur hatiku terasa dingin sekali.

“Iya mereka terlihat riang.Maaf jika aku boleh bertanya.Anak kecil yang kamu bawa itu. Anakmu Dok?” Kenapa aku bertanya begitu?

“Tak usahlah lah Fit, kamu menyapaku dengan sapaan dokter segala. Panggil saja aku Fatah seperti biasanya.”Aku menjadi salah tingkah.”Anak kecil itu adalah salah satu adikku.Kami empat bersaudara.”Fatah lalu membuka dompetnya.Dan memperlihatkan photo keluarganya.

“Ini adikku yang pertama bernama Reno, ini Adil, dan yang perempuan ini bernama Asyifa.”Aku sidik kembali dengan penglihatanku.Ternyata Fatah dan Reno adalah bersaudara.Allah maha besar.Dia mempertemukan kami bertiga.

“Fit, apakah kamu sudah punya calon suami?” Pertanyaan yang sungguh membuat hati berdesir keras.

“Kenapa Fatah bertanya seperti itu?”Aku balik bertanya.

“Aku masih ingat, pertemuan pertama kita di metro.Bacaan Qur’anmu begitu menakjubkan.Belum lagi kamu setia menemani ibumu yang sedang sakit.Diam-diam, aku mengamati itu semua. Aku merasakan jatuh cinta Fit.”

Kakiku seperti lumpuh.Aku hampir tidak bisa mengankat kaki.Tubuhku gemetar. Taman yang ada di sekelilingku akan menjadi saksi penting dalam sejarah hidupku.

“Fit, maukah kamu menjadi istriku?”

Aku tak percaya apa yang kudengar. Aku malah meneteskan airmata.Sebegitu cepatkah Allah mendengar permintaan seorang hamba.Sampai menurunkan dua pangeran yang bersaudara padaku. Pinangan Reno melalui surat belum aku jawab. Sekarang Fatah, yang tiada lain adalah kakak Reno datang untuk meminang. Jujur aku tersipu.Aku ingin membuka diri kepadanya.Tapi aku tak kuasa.

Suara tangisan membuyarkan hal itu semua.Aku begitu peka. Suara ini tak lain dari seorang anak kecil. Rupanya Adil, dia terjatuh dari ayunan. Aku berlari menghampiri dia, disusul Fatih pula.Aku menariknya ke pangkuanku aku jadi merasa lebih nyaman.Aku membelai-belai rambutnya.Adil anak yang penurut.Aku memberi padanya robot gundam.Dia tak menangis lagi.Aku menanggapi lirih sambil mencium kepalanya gemas.Fatih memandangku dengan tersenyum.Pandangan kami bertemu. Dan ces! Sekali lagi ada tetesan embun di hatiku.Aku kembali menundukan padangan. Aku tak bisa menyembunyikan wajahku, tak tahu seperti apa bentuk mukaku sekarang.

Yang aku alami tadi sungguhkah kejadian nyata ataukah sekedar mimpi belaka? Terkadang orang yang terlalu bahagia melihat apa yang dialaminya seperti mimpi. Terkadang waktu berjalan sedemikian cepatnya tanpa memberi kita kesempatan untuk berpikir sebenarnya apa yang sedang terjadi pada diri kita sendiri.

***

Rumahku surgaku.Betapa tidak kami disini memadu kasih bersama.Tempat bersejarah yang ada dimana abi dan ummi menggurus kami ketika kecil.Di saat kami tak berdaya.Mereka memberikan asuhan terbaik di bumi Allah ini.Ummi kembali ke rumah ini.Aku sungguh berbahagia.Berkumpul bersama kembali antara aku, ummi, dan kedua adik kecilku yang imut.Aku ingin cerita sekali pada ummi mengenai cinta.Cinta halal yang memadu kasih dan berbuah pahala.Tapi aku tak sanggup menyatakan itu semua apalagi ummi belum sehat betul dari heart stroke-nya.

Aku harus berturut-turut shalat istikharah.Aku tak ingin tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.Keputusan bijaksana dan logika patut kembali ditimbang.Mengingat mereka adalah dua bersaudara.Yang aku takuti ketika memilih salah satu diantara mereka. Mereka akan bermusuhan. Aku teringat akan Surat Al-Zuhruf ayat 67: bahwa orang-orang yang saling mencintai satu sama lain pada hari kiamat akan bermusuhan, kecuali orang-orang yang bertakwa.Kepalaku terasa berat lalu nyeri dan semuanya kembali terasa lelap.Dalam lelap, aku melihat seorang pemuda di Jabal Rahmah. Rambutnya pirang, wajahnya bagaikan pualam, ia tersenyum padaku. Ia ingin melamarku. Namun, aku belum memberikan jawaban.Dia hanya memberikan nasihat bahwa umur tak bisa dihargai materi.

Seketika itu pun aku bangun. Ummi membangunkanku bahwa sebentar lagi maghrib. Aku harus memberi tahunya mengenai dua pria bersaudara yang akan meminangku. Aku ingin mendengar keputusan ummi.Pastinya keputusan yang bijaksana. Keputusan sepenuh hati dalam hidup dan mati, yang kuharapkan jadi teman seperjuangan merenda masa depan, dan menapaki jalan Ilahi. Jika waktunya tiba semuanya akan terang. Hadiah agung dari Tuhan itu akan datang. Malam terakhir bulan Ramadhan ini akan selalu kukenang. Agar menjadi pribadi yang lebih cemerlang di masa depan.

Cibarengkok, 14 Juli 2015

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Setitik Cahaya di Bulan Suci

Oleh: Harni Marisa | Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Mentari menyapaku di pagi hari, selalu tersenyum bak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *