BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Sastra / Karya Cerpen / BINGKISAN DARI LANGIT DHUHA

BINGKISAN DARI LANGIT DHUHA

Oleh Asyifa Fajri Humairoh | Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab

Simpel saja, ketika mereka kembali dan selalu bertanya kepadaku tentang hal apa yang harus aku lakukan di bulan suci, aku tidak pernah ungkapkan. Aku lebih memilih diam dan termangu di pojok kamarku setelah aku pulang dari rutinitasku sehari-hari. Aku benci ketika mereka selalu menanyakan hal itu padaku. Apakah aku salah dengan jalan pilihanku sendiri? – Nesya

Siang beranjak pergi. Waktu menunjukkan pukul 16.20. Artinya, sudah beberapa puluh menit adzan ashar berlalu. Nesya terbangun dan tergagap-gagap ketika dia melihat jam dinding di tembok merah muda kamarnya. Ah, kenapa dia harus terlambat. Mereka menunggunya sore ini. Di depan Masjid An-Nasir. Tiba-tiba saja ia hampir lupa, ia belum melaksanakan shalat ashar. Tidur ini membuatnya lalai akan segalanya, huh. Segera Nesya beranjak dan mengambil air wudhu seadanya, pun dalam kondisi setengah sadar. Kemudian ia sholat ashar. Seselesainya dengan terburu-buru, ia memenuhi undangan beberapa orang temannya, di Masjid An-Nasir.

Nesya hampir berlari ketika melewati gang sempit menuju masjid tersebut. Gamis ungu yang ia pakai tidak mencerminkan keanggunannya, dia Nampak begitu tergesa-gesa. Akhirnya di senja yang semakin beranjak pergi, dia menghampiri dua orang temannya yang sudah menunggunya selama kurang lebih 15 menit.

“Nesya, kamu ke mana aja? Kamu lupa ada janji sama kita?”, tanya salah seorang rekannya dengan lembut.

“Nes, kamu tuh ya, jangan kebiasaan buat ingkar sama janji kamu. Kamu minta buat kita ontime. Tapi kamu sendiri?”, timpal salah seorang rekannya satu lagi.

“Maaf maaf, kalian maklumi aku dong. Aku ketiduran. Beneran deh, suer!”, jawabnya singkat.

Sambil membenarkan jilbab yang dipasangnya, Nesya menjelaskan alasan mengapa ia bias terlambat seperti itu. Untungnya, kedua orang sahabatny itu mau memaklumi Nesya. Perbincangan mereka pun berlanjut diiringi dengan posisi matahari yang beranjak tenggelam.

Di pelataran masjid itu, udara sore berhembus sepoi-sepoi. Hari itu adalah hari minggu, maklum saja suasana masjid nampak agak sepi. Mereka bertiga mulai mendiskusikan sesuatu hal yang selama ini membuat Nesya nampak futhur. Mereka bernama Ayu dan Diera. Keduanya adalah sahabat Nesya yang sejak tiga tahun lalu sudah sering bersama-sama, mereka dipertemukan di kampusnya tercinta.

Nesya hanya diam dan tidak berkata apa-apa. Matanya terlihat sayu, kurang tidur. Katanya, tugas-tugasnya terlalu banyak. Matematika dasar dan trigonometri lanjutan membuatnya pusing tujuh keliling. Akhirnya, takada pelarian lain selain membeli banyak kopi untuk memaksimalkan kerjanya di malam hari. Akhir-akhir ini tubuhnya nampak taksesegar dulu lagi.

Ayu dan Diera mengakuinya, mereka begitu menyayangi Nesya. Takingin sesuatu hal terjadi pada Nesya. Dengan air mata yang sedikit lagi terjatuh, dihela napas panjang, Nesya menceritakan segalanya.

Satu bulan yang lalu, Mei 2015

Handphone Nesya bergetar berkali-kali. Ada panggilan takterjawab tiga belas kali, ada dua belas pesan belum ia baca. Dengan santai di waktu ia lepas melaksanakan shalat dhuha, ia pun membaca dan melihat layar ponselnya tersebut. Ada beberapa pesan dari ibu dan ayahnya. Isinya takwajar. Di dalamnya terselip beberapa pernyataan yang membingungkannya. Nesya masih belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“Bu, Ayah, ada apa ini..”, Nesya panik, ucapnya dalam hati.

Kedua orangtuanya mengabari dengan separuh-separuh. Ternyata, tempat usaha berupa kios dagang kelontongan di pasar tempat ayah dan ibunya berjualan terbakar. Karena kebakaran yang parah, takada barang yang bisa diselamatkan. Adiknya yang masih berusia lima tahun terkena luka bakar 70%, karena saat itu sedang diajak untuk berjualan di pasar tersebut.

Nesya segera pulang ke rumahnya di daerah Ciamis. Dengan bawaan seadanya dan dengan kewajiban kuliah yang akan ia tinggalkan beberapa hari.

Akhirnya, setelah beberapa jam perjalanan dari Bandung, ia sampai. Ia peluk kedua orangtuanya, Nesya hanya bias menangis terisak dan tertunduk di hadapan mereka. Takmenunggu beberapa lama, akhirnya Nesya pun beranjak menuju rumah sakit. Ia hendak menjemput adiknya, si cantik yang terkena luka bakar akibat peristiwa memilukan tersebut.

Adiknya masih dengan perban dan peralatan medis yang ada di tubuhnya. Nesya takpernah membayangkan sebelumnya jika hal pahit seperti itu terjadi di hidupnya. Nesya mulai takut, ia bingung bagaimana nanti kedua orangtuanya harus membayar biaya perawatan adiknya. Pun dia bingung bagaimana kelanjutan usaha kedua orangtuanya tersebut. Sementara sampai saat ini saja, kuliahnya dibantu dengan beasiswa. Nesya semakin bingung. Ia mendadak hampir putus asa dengan segala musibah yang terjadi di dalam hidupnya.

Semakin hari, ia malah jadi taksemangat dalam menjalani hidupnya. Ia berpikir bahwa takada yang peduli lagi padanya dan keluarganya. Biaya perawatan adiknya didapat dari hasil pinjaman kepada beberapa orang kerabat. Sebagian uang beasiswanya ia sisihkan untuk keperluan keluarganya. Beberapa hari kemudian, ia kembali ke kampusnya di Bandung dengan perasaan berat hati.

Di kampus..

Ia takpernah menceritakan kejadian apa yang menimpanya, hingga membuatnya begitu hampa. Ayu dan Diera takpernah berani menanyakannya. Nesya malah menjadi seseorang yang keras kepala. Nesya lebih sering terdiam dan marah. Mengapa nasibnya takseperti teman-temannya di kampus. Jalan hidup kawannya lancar-lancar saja. Sementara hidupnya, ia pikir begitu berat dan memuakkan.

Tugas-tugasnya semakin menumpuk, ia ditekan sana-sini. Dengan pikiran yang keruh, ia menghalau semuanya dengan kemarahan dan tangis, di depan Ayu dan Diera.

“Yaudah, mulai saat ini kalian jangan pernah ganggu kehidupan aku lagi. Aku muak dengan semuanya. Apakah aku yakin Allah mencintaiku kalau hidupku hanya dipenuhi dengan derita dan tekanan?! Kuliahku hancur, organisasiku berantakan! Kalian masih yakin aku bakal selamat, ha?!?!”, Nesya marah sejadi-jadinya.

Astaghfirullahaladzim, Nesya. Kamu jangan pernah bilang gitu. Allah sayang sama kamu. Tanpa perlu kamu minta cinta-Nya, Dia selalu mencintai kamu, Nes..”, ungkap Diera dengan begitu bijaksana.

“Ah, kamu jangan sok bijak, Dier. Kamu juga, Yu. Kalian jangan sok peduli sama aku dan kehidupanku. Kalau misalnya Allah sayang sama aku, kenapa aku yang rajin sholat dhuha ini selalu dipersulit kehidupannya? Kalian masih mau komentar? Mangga!”, Nesya ketus menjawabnya.

Nesya pergi dari Ayu dan Diera. Kedua sahabatnya itu tidak berkomentar apa-apa lagi. Nesya pergi dengan berurai air mata. Nesya berlari menuju sebuah taman kecil di dekat gedung rektorat kampusnya. Ayu dan Diera faham, mungkin Nesya sedang takingin diganggu.

Ayu dan Diera, adalah dua sosok sahabat shalihah, mereka selalu mendukung Nesya, membantu Nesya dalam kondisi sulitnya. Meski mereka belum tahu secara jelas apa yang terjadi pada Nesya hingga membuatnya takterima dengan kehendak dan cobaan yang Allah berikan kepadanya.

Semakin hari, terlihat Nesya semakin takpercaya dengan jalan yang Allah berikan untuknya. Katanya, Allah taksayang padanya. Padahal, dengan cinta-Nya saja, kita bisa hidup. Tentu di samping itu banyak nikmat-Nya yang takmampu terhitung.

———-

Waktu senja itu semakin berlalu. Nesya, Diera, dan Ayu tenggelam dalam tangis mereka. Mereka membayangkan cerita yang Nesya paparkan. Akhirnya, Nesya mau menceritakan semuanya. Kesakitannya, keperihannya dalam menjalani kehidupan ini. Takterasa senja semakin beranjak pergi. Mereka berpelukan, saling meminta maaf satu sama lain.

“Nes, Ramadhan sudah tiba. Kamu masih bisa rasakan cinta-Nya? Sekarang ramadhan akan pergi. Kamu masih bisa rasakan cinta Allah sama kamu?”, Tanya Ayu sambil mengusap air mata di kedua matanya.

“Entah apa yang harus aku katakan, Nes. Maafin kami, kalau kami selama ini gak perhatian sama kamu. Sama kamu, yang padahal udah kita anggap sebagai saudari kita sendiri…”, ucap Diera, sambil terisak tangisannya.

Angin semakin dingin berhembus, ketiganya masih tenggelam dalam tangis yang membuncah.

“Aku gak pernah berharap sama Allah bisa dipertemukan sama kalian. Aku gak pernah berdoa secara spesifik sama Allah supaya aku bisa dikasih saudari tanpa ikatan darah yang luar biasa kaya kalian. Aku berpikir beberapa bulan yang lalu, bahwa Allah gak sayang sama aku. Allah begitu tega, sama aku yang selepas berdoa di waktu dhuha kepada-Nya malah dikasih cobaan yang luar biasa berat.”, ungkap Nesya, berderai air mata pula.

“Takpernah ada kata terlambat untuk kita taubat sama Allah. Meski dulu udah menganggap Allah gak sayang sama kita. Tetap aja, ngga bakal bisa kita bohong kepada-Nya. Bahwa cinta Allah selalu mengalir buat kita. Di sisa ramadhan kita ini.. Nesya..”, dengan lirih Ayu mengungkap.

“Di sisa ramadhan terakhir ini, aku bisa ambil ibrah dari kejadian yang sering menimpaku beberapa bulan terakhir. Aku ingin berubah, jadi insane yang lebih baik. Aku butuh dukungan kalian, Yu, Dier. Tolong bimbing aku, jadi lebih baik. Berusaha lagi mendekati Allah. Sebelum terlambat, sebelum aku gak punya waktu di dunia ini, buat memperbaiki diri…”, jawab Nesya.

Ketiganya, saling berpelukan. Senja semakin larut, adzan maghrib akan segera berkumandang. Mereka bertiga kembali merajut asa dan mimpi yang baru. Nesya khususnya. Berharap agar ia takpernah dijauhkan lagi dari Allah. Kini Nesya menyadari betapa kejadian pra-ramadhan membuatnya jungkir balik berkali-kali; keimanannya.

Pagi hari berlalu, di tengah ramadhan yang semakin akan beranjak pergi…

Nesya merasa begitu teduh dan begitu merasa tenang kali ini dalam menjalani kehidupannya. Nesya menjadi begitu tersadar, mengapa Allah merahasiakan semua yang akan terjadi pada hidupnya, lantaran Nesya harus terus berusaha untuk menggapai yang terbaik. Jika ada sesuatu hal yang pahit lagi baginya, ia akan yakin, bahwa itu adalah cara sebaik-baik ia menghamba pada Allah. Nesya sekarang yakin, cinta Allah selalu menghampiri hidupnya. Di sisa ramadhannya itu, Nesya terus perbaiki dan membuat resolusi terpenting di hidupnya: untuk selalu menjadikan Allah tujuan dari segala harapannya.

Pagi ini, Nesya ambil air wudhu. Dengan tunduk, ia laksanakan kembali shalat dhuha yang sempat ia tinggalkan beberapa bulan terakhir. Air matanya takmampu terbendung. Selepas shalat dhuha, ada berita baik menghampiri ponselnya. Nesya yang sekitar enam bulan lalu mendaftarkan diri untuk ikut pertukaran pelajar ke Jepang, akhirnya karya tulis yang dibuatnya lolos dengan hasil luar biasa. Kesempatan itu datang, Nesya akan bisa menikmati hamparan bumi tanah Jepang dengan biaya nol rupiah. Nesya, begitulah calon mahasiswi berprestasi di kampusnya…

Ternyata, ada bingkisan di langit biru waktu dhuha itu. Nesya takhenti mengucap syukur kepada-Nya. Akhirnya ia selalu meyakini, bahwa cinta Allah takpernah putus buat hamba-Nya. Akhirnya, Nesya bermetamorfosis menjadi seorang ukhti Nesya yang baru. Yang lebih optimis dan penuh senyuman dalam menjalani kehidupannya..

Give thanks to Allah… – Nesya

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Setitik Cahaya di Bulan Suci

Oleh: Harni Marisa | Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Mentari menyapaku di pagi hari, selalu tersenyum bak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *