BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Pendidikan / Sekolah dan Kampus / Merenungi Kembali Hari Pendidikan Nasional

Merenungi Kembali Hari Pendidikan Nasional

Merenungi Kembali Hari Pendidikan Nasional

Oleh : Tatang Hidayat (Ketua Umum KALAM UPI 2016 / Mahasiswa Ilmu Pendidikan Agama Islam UPI 2013)

Setiap tanggal 2 Mei di Indonesia selalu diperingati sebagai hari pendidikan nasional,  alasannya karena dahulu tanggal 2 Mei 1922 telah berdiri lembaga pendidiakan taman siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantoro, padahal jika kita menelaah lebih dalam, sebelum tanggal 2 Mei 1922, telah berdiri lembaga pendidikan yang dipelopori oleh persyarikatan Muhammadiyyah dan Kyai Haji Ahmad Dahlan yang berdiri tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H / 18 November 1912.

Telah kita maklumi bersama bahwa sejarah umat Islam di Indonesia saat ini telah mengalami deislamisasi sejarah, seolah-olah meniadakan peran umat Islam dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari kaum kafir penjajah. Padalah peran Ulama dan santri begitu besar dalam memimpin pergerakan nasional, tetapi sangat disayangkan sejarah yang kita terima saat ini dalam dunia pendidikan justru berbanding terbalik dengan sejarah yang sesungguhnya. Sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Dr. Ahmad Mansyur Suryanegara dalam bukunya api sejarah 1 dan 2.

Disamping deislamisasinya sejarah-sejarah perjuangan umat Islam dalam memimpin pergerakan nasional termasuk dalam dunia pendidikan, kita sepantasnya merenungi kembali setiap tanggal 2 Mei yang selalu diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Bagaimanakah kabar pendidikan nasional saat ini, apakah sudah maju atau masih sama atau bahkan malah mundur ? seperti apakah dunia pendidikan nasional saat ini?

Pihak BNN Kota Palu melakukan tes urine ke sejumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Hasilnya 223 siswa dinyatakan positif memakai narkoba. (merdeka.com, 4/3/2016)

Bahkan di kota Yogyakarta yang terkenal sebagai kota pelajar, tingkat penderita HIV dan AIDS begitu banyak. Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) membeberkan jumlah ODHA (orang dengan HIV dan AIDS) di Yogyakarta dari tahun 1993 sampai 2015 mencapai angka 3.146. Dari angka tersebut, yang sudah masuk fase AIDS sebanyak 1.249. 214 di antaranya adalah mahasiswa. Data ini diungkapkan KPA di Desember 2015. (merdeka.com, 29/1/2016)

Masih banyak lagi kasus-kasus yang mewarnai dunia pendidikan di Indonesia saat ini, dari mulai tawuran antar pelajar, pergaulan bebas, hamil di luar nikah, hingga aborsi dan itu terjadi dikalangan pelajar. Tentunya kita miris mendengarnya, moral bangsa ini semakin terkikis dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan pelajar, baik tingkat SMA, SMP bahkan sampai SD.

diknas 2

Disamping banyaknya kasus yang mewarnai dunia pendidikan Indonesia saat ini, tidak ketinggalan dalam dunia perguruan tinggi tidak kalah berbeda. lulusan perguruan tinggi saat ini sulit mendapatkan pekerjaan di negerinya sendiri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2014, di Indonesia ada 9,5 persen (688.660 orang) dari total penganggur yang merupakan alumni perguruan tinggi.

Mereka memiliki ijazah diploma tiga atau ijazah strata satu (S-1) . Dari jumlah itu, penganggur paling tinggi merupakan lulusan universitas bergelar S-1 sebanyak 495.143 orang.

Angka pengangguran terdidik pada 2014 itu meningkat dibandingkan penganggur lulusan perguruan tinggi pada 2013 yang hanya 8,36 persen (619.288 orang) dan pada 2012 sebesar 8,79 persen (645.866 orang).

“Tingkat pengangguran terbuka Indonesia berdasarkan pendidikan yang ditamatkan cukup membahayakan,” kata mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Djalal, (Kompas.com, 23/4/2016)

Padahal jika kita melihat perguruan tinggi saat ini semakin mahal dan hanya dinikmati oleh segelintir orang, sehingga yang meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi hanya dinikmati oleh segelintir orang. Tetapi sayangnya, meskipun biaya perguruan tinggi itu mahal, tidak menjamin lulusannya mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Tentunya kita sangat miris mendengarnya.

Pendidikan dalam cengkraman kapitalisme berbanding terbalik dalam pandangan Islam, Islam memandang bahwa penyelenggaraan pendidikan adalah kewajiban negara dan negara wajib memfasilitasi pendidikan secara gratis untuk rakyatnya. Tujuan dari pendidikan Islam adalah terbentuknya kepribadian Islam yang terwujud dari pola fikir dan pola sikap yang Islami yang ditanamkan sejak dari kecil.

Proses pembentukan karakter Islami menjadi perhatian khusus dalam sistem pendidikan Islam, dan itu berbanding terbalik dalam pendidikan sekuler saat ini yang lebih mengedepankan aspek intelektual tetapi kurang memperhatikan proses pembentukan karakter, sehingga banyak orang-orang yang cerdas tetapi kurang dalam berakhlak.

Maka pentingnya bagi kita untuk merenungi kembali setiap tahun diperingatinya hari pendidikan nasional, apakah pendidikan kita saat ini sudah maju atau bahkan masih tertinggal. Perlunya bagi kita untuk memikirkan sebuah sistem pendidikan yang akan menyelamatkan dunia pendidikan di Indonesia yang saat ini sudah kehilangan arah, itulah pentingnya urgensi sistem pendidikan Islam yang akan mewujudkan manusia-manusia yang bertakwa dan ahli dalam ilmu pengetahuan. []

 

Yuk Komentar!

Komentarmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *