BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Breaking News
Home / Opini dan Analisis / Andaikan Kartini Khatam Ngaji

Andaikan Kartini Khatam Ngaji

Kartini

Oleh: Atik Latifah (Ketua Departemen Penerangan  Kalam UPI)

Hari Perempuan Internasional yang diperingati pada 8 Maret telah memanaskan publik, khususnya kaum hawa. Di bulan April pun ide emansipasi ala feminisme kian menggelora disuarakan. Raden Ajeng Kartini (Raden Ayu Kartini), pemikir ulung yang dalam masa hidupnya yang singkat disebut-sebut sebagai pelopor kesetaraan gender nusantara. Hari lahirnya kini diperingati sebagai momentum emansipasi nasional di Indonesia.

Habis Gelap Terbitlah Terang

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)….” [TQS. Al-Baqarah : 257]

Tahukah Anda, ayat tersebut menginspirasi Kartini untuk menulis sebuah ungkapan dalam suratnya kepada Abendanon, yang ia tulis dalam Bahasa Belanda Door Duisternis Toot Licht. Lalu kemudian oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

Sayangnya, media kurang fair dalam menyebarluaskan transformasi pemahaman Kartini. Karena sejatinya kartini mengalami pergulatan pemikiran yang cukup sengit. Pada awalnya, seperti kebanyakan kaum ningrat lain, Kartini sempat dipengaruhi pemikiran dan budaya kompeni (notabene Eropa). Dengan makar terencana, kompeni mempropagandakan ide-ide ke tengah-tengah kaum ningrat nusantara sedemikian hingga kaum ningrat membenarkan dan menganggap agung bangsa Eropa.

Salah satu ide yang disematkan oleh kompeni adalah ide emansipasi (Baca: Mengagungkan kehidupan perempuan Eropa dengan gaun-gaun, pesta teh, bagaimana mereka berhak berpendidikan dan mendapatkan posisi yang sama seperti laki-laki, dsb). Simaklah kutipan surat Kartini kepada Nona Zeehandelaar (25 Mei 1899) berikut, “Jika saja masih anak-anak ketika kata-kata ’Emansipasi’ belum ada bunyinya, belum berarti lagi bagi pendengaran saya, karangan dan kitab-kitab tentang kebangunan kaum putri masih jauh dari angan-angan saja, tetapi dikala itu telah hidup di dalam hati sanubari saya satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri.” Tak hanya itu, mereka pun mempropagandakan bahwa masyarakat Eropa adalah satu-satunya masyarakat yang paling baik sedangkan masyarakat pribumi adalah masyarakat rendahan.

Selain terpengaruh pemikiran Barat alat kompeni, Kartini pun tumbuh dalam lingkungan yang kental dominasi adat-istiadat. ”Peduli apa aku dengan segala tata cara itu. Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu…Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan” Tulisnya dalam surat kepada Stella (18 Agustus 1899). Kartini beranggapan bahwa manusia memiliki derajat yang sama, ia menolak adat Jawa yang mendiskriminasi manusia sesuai keturunannya. Dengan penginderaannya yang tajam terhadap permasalahan masyarakat ia pun tergerak melakukan revolusi di tanah Jawa, dimulai dari membenahi pendidikan bagi pribumi perempuan. Ini adalah tugas besar yang ia pilih.

Perkembangan pemikiran Kartini tak berlabuh sampai sini saja. Namun sampai kini, hanya sejauh ini yang tersebar luas di tengah masyarakat adalah Kartini sebagai tokoh emansipasi ala feminisme. Wajar jika akhirnya emansipasi yang dituntutnya telah bergeser ke arah kebebasan, persamaan gender, feminisme dan ide penentangan fitrah perempuan. Momentum 21 April tiap tahunnya pun hanya sekedar ajang ceremonial belaka, yang disesaki dorongan kaum perempuan melawan fitrah mereka sendiri.

Transformasi Spiritual

Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang (dikenal dengan Kyai Sholeh Darat), yang sekaligus guru para ulama besar Indonesia seperti KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asyari. Beliau lah yang membukakan jawaban bagi Kartini di tengah kuatnya sangkar adat dan misionarisme pemikiran Barat, dari kebingungan dan kesulitan hidup mempertahankan idealismenya. Selepas pertemuan dengan Kyai Sholeh Darat, Kartini menjawab semua itu dengan mengembalikannya pada Islam. Sehingga memutarbalikkan arah pandang Kartini, dari kegelapan menuju cahaya (iman). Ia pun mengubah pendapatnya terkait masyarakat Eropa.

”… tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat itu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai Peradaban?” ungkap Kartini kepada Ny. Abendanondalam suratnya (27 Oktober 1902).

Perubahan drastis arah pandang Kartini ini mencuat setelah ia membaca terjemahan al-Qur’an (Faizhur Rohman fit Tafsir Qur’an) yang ditulis Kyai Sholeh Darat.dalam Bahasa Jawa. Jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari Surat Al-Fatihah sampai dengan Surat Ibrahim, yang dihadiahkan Kyai Sholeh Darat pada hari pernikahannya. Sejak itulah Kartini mulai memahami makna Islam yang sesungguhnya, bukan hanya sebatas hapalan kata-kata. Namun sayang, tak lama setelah itu, Kyai Sholeh Darat meninggal dunia.

Lebih jauh, Kartini menyadari peran penting perempuan adalah sebagai ibu generasi dan madrasatul ula. Tercantum dalam surat Kartini kepada Prof. dan Nyonya Anton dan (4 Oktober 1902),”Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Andaikan Kartini Khatam Ngaji

Peran penting perempuan inilah yang hendak Kartini perjuangkan: menjadi ibu dan pendidik anak yang pertama, bukan malah emansipasi yang kebablasan. Andaikan Kartini khatam Ngaji, tidak hanya sampai surat Ibrahim, bahkan sampai surat ke-114. Ia akan menyuarakan Islam lebih luas, termasuk mengenakan khimar (surat an-Nur ayat 24) dan jilbab (surat al-Ahzab ayat 33).

Andaikan Kartini khatam ngaji, momentum 21 April akan menjadi ajang kemuliaan. Namun karena Kartini belum khatam ngaji, bukan berarti kita mendiamkan perayaan emansipasi hari ini. Karena sejatinya kita harus menyambut estafet perjuangan Kartini, bahwa hanya Islam lah yang mampu memuliakan perempuan.

Jika Kartini menginginkan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan, maka Islam jauh mempunyai impian yang lebih mulia terhadap perempuan. Islam telah mengangkat derajat perempuan, bahkan Rasulullah Saw. dalam haditsnya menempatkan perempuan sebagai orang pertama yang dihormati. Selayaknya, bagi perempuan yang hendak melanjutkan perjuangan Kartini, ia mengkaji Islam dengan penuh kesungguhan dan mendakwahkannya sebagaimana Kartini. []

Yuk Komentar!

Komentarmu

Check Also

Peran Ulama Dalam Membela Kemuliaan Al Quran

Peran Ulama dalam Membela Kemuliaan Al Quran Oleh : Tatang Hidayat *) Akhir-akhir ini, negeri ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *